Selasa, 12 Juni 2018

JACKPOT RAMADHAN : LAILATUL QODAR

Ada suatu malam di antara malam-malam di bulan suci Ramadhan yang barangsiapa mengerjakan suatu ibadah, pahalanya akan berlipat setara pahalanya orang yang beribadah 1000 tahun. Adalah malam Lailatul Qadar.

Penjelasan mengenai Lailatul Qadar sendiri berdampingan dengan penjelasan tentang Nuzulul Qur’an, karena di bulan Ramadhan inilah Al-Qur’an diturunkan pertama kali oleh Allah kepada Rasulullah[1]. Pendapat tersebut diperkuat dengan adanya surat Al-Qadar : 1 yang berbunyi :

إِنَّآ أَنْزَلْنٰهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Qadar”

Jadi kenapa malam Lailatul Qadar mulia? Karena pada malam itu Al-Qur’an diturunkan.

Namun di kalangan ulama masih sering terjadi perbedaan pendapat mengenai kapan waktunya, apakah tanggal 17 atau 21, 23 dan seterusnya. Pak Syahiron, selaku Guru yang menjadi Narasumber, dalam penjelasannya menerangkan hal tersebut melalui pembahasan tahapan/proses turunnya Al-Qur’an.

Pertama, Al-Qur’an yang berada di Lauhul Mahfudz (Papan yang di jaga) diturunkan ke Baitul Izzah (Lapisan langit terdekat dengan kita). Disini Al-Qur’an diturunkan secara sekaligus/utuh. Peristiwa inilah yang terjadi di Nuzulul Qur’an pada zaman Nabi. Selanjutnya Al-Qur’an mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril secara berangsur-angsur, yakni 22 tahun 2 bulan 22 hari.

Maka penjelasan Lailatul Qadar dapat dibagi ke dalam 2 pengertian, pertama Lailatul Qadar secara Hakikiyah yaitu peristiwa diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah secara utuh, dan hal ini terjadi satu kali, hanya pada saat dulu saja. Kedua Lailatul Qadar yang kita peringati serta kita upayakan agar mendapat kemuliaan setiap tahunnya di bulan Ramadhan itu dinamakan Lailatul Qadar Majazi.

Lantas di malam yang mulia tersebut, apa yang dapat kita lakukan? Salah satunya dengan mempelajari Al-Qur’an.

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .
“Sebaik-baiknya kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”

Mempelajari AL-Qur’an dapat dimulai dari:
a.       Segi Bacaan, bagaimana membacanya dengan sebaik mungkin, dengan makhorijul huruf yang benar dan sesuai dengan ilmu tajwid.
b.      Segi Pemahaman, memahami Al-Qur’an butuh proses yang panjang. Kita bisa mulai dari mempelajari dari segi bahasa seperti ilmu balaghoh, ilmu nahwu dan ilmu shorofnya, kemudian lanjut ke ilmu-ilmu yang berkaitan seperti tafsir, munasabah ayatnya, dll. Kita harus hati-hati dalam memahami Al-Qur’an, sebab banyak dari kita yang mencoba memahami Al-Qur’an dengan hanya membaca terjemahannya saja, dan mengabaikan ilmu-ilmu lain seperti tafsir para ulama, dan asbabun nuzulnya.

c.       Mempraktikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Bicara tentang memahami Al-Qur’an, Pak Syahiron memberi contoh melalui kisah Ratu Bilqis yang terdapat pada Al-Qur’an. Ratu Bilqis adalah sosok pemimpin yang baik walaupun ia perempuan. Al-Qur’an tidak pernah sekalipun mengkritik Ratu Bilqis yang menjabat sebagai pemimpin dari kaum Saba tersebut.

Dari kisah Ratu Bilqis dapat diambil hikmah, bahwa pemimpin yang baik adalah yang mempunyai sifat:
1.      Adil
2.      Amanah
3.      Cerdas
4.      Syuro/Demokratis
5.      Memperhatikan kemaslahatan ummat
6.      Mampu berdiplomasi

Pak Syahiron menambahkan ‘Tidak ada satupun hadis maupun ayat Al-Qur’an yang secara implisit maupun eksplisit yang memerintahkan suatu kaum untuk mendirikan khilafah atau negara islam. Dalam Al-Qur’an tidak ada penjelasan tentang sistem pemerintahan, yang ada prinsip memerintah yang baik. Intinya mengutamakan Maslahat bukan Mafsadat’. 

..والله أعلم بالصواب..


Narasumber : Dr. Phil Sahiron Syamsudin
(Adin/Roy)


[1] QS. Al-Baqarah : 185, "شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ.." (bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran..)
Share:

Senin, 21 Mei 2018

GP MENGAJI / MENJADI PENGAJAR YANG BAIK menurut kitab at-Tibyan

http://www.muslimedianews.com/2015/06/foto-momen-yang-akan-ingatkan-masa.html

Guru merupakan seorang yang mengajarkan ilmu yang telah ia terima kepada muridnya. Seorang guru selalu menjadi panutan oleh muridnya. Bagaimana tingkah laku muridnya, hal itulah menjadi cerminan seperti apa gurunya. Lalu bagaimana cara menjadi guru yang baik? Kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Qur’an membahas hal tersebut dalam bab اداب معلم القرأن و متعلمه (Adab Belajar al-Qur’an dan Mengajarkannya) dengan uraian sebagai berikut :
1.      Tawadu’
Seorang guru harus memiliki sifat lemah lembut dan tawadu’ dalam mengajar. Setiap manusia pasti melalui yang namanya masa belajar, baik itu di sekolah maupun pondok pesantren. Setelah mereka menuntut ilmu dan kembali ke daerah masing-masing, diharapkan dapat mengajarkannya kembali ilmu yang telah didapatkan. Meski begitu, mereka harus memiliki sikap dalam menyalurkan ilmu. Sikap tawadu’, lemah lembut, dan tidak sombong menjadi bekal untuk menyalurkan ilmu yang didapatkan. Bersikap sombong tidak dibenarkan dalam agama Islam, terlebih kepada sang murid. Mengapa demikian? Karena kedudukan murid adalah seorang anak yang lebih diutamakan daripada kesibukan duniawi.
2.      Mendidik etika dengan cara bertahap
Seorang siswa harus dididik secara bertahap dalam hal etika. Etika tidak hanya sebuah teori saja, namun harus disertai dengan praktiknya juga. Teori tanpa praktik sama saja dengan pincang, sedangkan praktik tanpa teori sama dengan hancur. Keduanya harus dilakukan bersama. Adapun pengaplikasian teori tentang etika, diharapkan dapat diterapkan sejak dini. Mengapa?? Hal tersebut agar menjadi kebiasaan yng baik bagi anak. Dari sini, etika menjadi inheren dalam dirinya. Jadi, apabila ketika ia sudah terbiasa beretika dan suatu ketika sikapnya salah, maka ia akan langsung tersadar dan membenahinya.
3.      Mengajarkan untuk mengolah jiwa dengan baik
Sang pengajar tidak hanya mengajarkan bagaimana beretika dengan baik, tapi juga mengajarkan bagaimana mengolah jiwa dengan baik. Jiwa perlu dilatih untuk memanajemen diri dalam mengontrol segala sesuatu. Semisal contoh bagaimana seorang anak bisa mengontrol emosinya dengan baik. Di saat ia marah, maka ia akan meredam emosinya dan tidak mejadi marah lagi. Hal ini sangat diperlukan, bukan hanya bagi seorang anak/ murid tapi berlaku pula bagi pengajar.
4.      Mengajarkan untuk bersifat jujur dan ikhlas
Seorang pengajar selalu menjadi panutan muridnya. Sebagai seorang pengajar hendaklah bersifat jujur, ikhlas, berniat dengan benar dan merasa selalu diawasi oleh Allah setiap waktu. Hal tersebut hendaklah pula diajarkan kepada sang murid. Ketika poin-poin tersebut telah diterapkan dalam diri pelajar, maka Allah akan memberikan anugrah kepadanya berupa cahaya-cahaya ma’rifat. Cahaya ma’rifat ini akan bersunber dalam hati. Cahaya ma’rifat ini memudahkan pelajar dalam mencari ilmu. Semisal contoh para ulama yang menulis kitab dalam waktu singkat. Secara logika tidak memungkinkan untuk menulis kitab dengan beribu lembar dalam beberapa waktu kecuali memang Allah memberikan cahaya ma’rifat ke dalam hatinya sehingga ia mendapatkan hikmah untuk menulis karyanya yang banyak.
Uraian di atas menjelaskan bagaimana menjadi pengajar yang baik. Setelah menjadi pengajar yang baik, lalu bagaimana prinsip daripada orang yang berilmu?
  •  Seorang yang berilmu, hukumnya fardu kifayah dalam mengajarkan kembali ilmu yang telah didapatkannya. Namun hukum kewajiban tersebut menjadi gugur ketika sudah ada orang lain yang bisa mengajarkan ilmu tersebut. Semisal contoh dalam masyarakat tertentu belun ada yang mengajarkan ilmu agama di dalam kampungnya, maka orang A yang berilmu tersebut wajib hukumnya mengajari masyarakat di kampung tersebut. Berbeda apabila dalam kampung tersebut sudah ada orang B yang mengajarkan ilmu, maka kewajiban orang A menjadi gugur/ sunah.
  •  Ketika kewajiban mengajar menjadi sunah, maka jadilah pengajar yang tidak pelit dalam berbagi ilmu. Apabila ada seorang yang meminta untuk diajarkan sebuah ilmu, maka ajari dia dengan baik karena kesuksesan seoarang pengajar diukur dari bagaimana dia mampu mendidik muridnya dengan baik.
  • Seorang pengajar juga harus memerintahkan murid untuk menjaga hafalan yang telah dihafalkan agar tidak hilang begitu saja
  • Apabila pengajar memiliki banyak murid, hendaknya ia mendahulukan murid yang datang lebih awal. Pengajar boleh saja mendahulukan murid yang datang dipertengahan maupun di akhir dengan syarat murid yang pertama kali datang mengijinkan murid yang datang selanjutnya untuk lebih dulu belajar kepada guru tersebut.
  • Seorang pengajar berseri-seri wajahnya dalam mengajar. Segala permasalahan di luar ranah kelas, maka harus dihilangkan terlebih dahulu.
  • Seorang pengajar harus pula perhatian dengan sang murid. Dalam arti ketika sang murid tidak masuk sekolah, maka tanyakan alasannya kepada temannya. Selain itu juga pengajar bisa pula menanyakan bagaimana kabar sang murid. Hal ini dapat menjadi suatu suntikan semangat dalam menerima pelajaran.
  • Ketika seorang pengjar menemukan seorang murid yang belajar dengan niat yang salah, maka pengajar hanya menuruti saja kemauan sang murid. Mengapa demikian?? Banyak asumsi bahwa setelah proses pelajaran berlangsung lambat laun murid tersebut akan mengerti bahwa belajar itu bukan karena apa-apa melainkan karena Allah semata.
  • Niat belajar itu sebenarnya untuk menghilangkan kebodohan dalam diri. Orang belajar itu untuk memperbaiki diri, perspektif hati, dan belajar berakidah yang benar. Tujuan daripada menuntut ilmu bukanlah menjadi ijasah melainkan menjadikan diri lebih baik, mengabdikan diri kepada sesama dan patuh kepada Allah.

Cukup sekian resume ngaji kali ini. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca. Amin

..والله أعلم بالصواب..


Sumber : Kitab at-Tibyan fi Adabi Hamalat al-Qur’an hal. 28-29
Share:

Kamis, 26 April 2018

GP MENGAJI / DZIKIR BUKTI CINTA PADA SANG KHALIQ


Dzikir kepada Allah merupakan simbol atau bendera keimanan, selain itu pula cara untuk terbebas dari kemaksiatan kepada Allah serta penjagaan dari setan dan api neraka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW “dzikir yang utama adalah dzikir yang lirih (sirrun)” yakni dzikir yang hanya antara hamba dengan Tuhannya (Allah). Banyak cara yang dapat dilakukan untuk memaknai dzikir, tidak selalu dengan menyebut asma-asma Allah. Dzikir dapat dilakukan dengan cara bertafakur dan bertadabbur kepada Allah mengenai ciptaan dan kebesaran-Nya. Adapun objek tafakur tidak hanya alam yang dapat dinikmati saja, akan tetapi diri kita sendiri. Bahwa diri manusia telah diciptakan dengan sedemikian rupa, di antaranya diberikan otak untuk berfikir, mata sebagai lensa penglihatan terbaik, telinga untuk mendengar apa yang ada disekitar.
Ada tiga hal yang sangat sulit dan berat untuk dilakukan seseorang; pertama, mengingat Allah dalam setiap keadaan. Kedua, memperhatikan keadaan saudara kita dengan cara memberikan sebagian harta kita. Ketiga, berlaku adil terhadap orang fakir dan lemah dengan cara memperhatikan dan menyayanginya.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat ad-Dzariyat ayat 56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Ayat ini menjelaskan bahwasannya Allah menciptakan jin dan manusia tiada lain yakni untuk menyembah kepada-Nya. Karena sesungguhnya tugas utama manusia yakni menghamba kepada Allah SWT setiap waktu. Barangsiapa yang mencintai Allah, maka ia banyak berdzikir kepada Allah. Adapun sebaliknya barangsiapa yang tidak mencintai Allah, maka ia tidak senang berdzikir kepada Allah. Dzikir kepada Allah di waktu pagi dan sore hari lebih utama daripada mengayunkan pedang dalam berperang di jalan Allah.
Dzikir yang paling utama adalah Lailaha illa allah. Lailaha illa allah mempunyai makna yang bermacam-macam. Secara etimologi, lafaz ilah mempunyai arti sesembahan, pelindung, pendidik, dan induk. Sedangkan secara terminologi, ilah berarti tempat bertawakal atau berpasrah diri. Ketika lafaz tersebut diresapi dalam hati, hanya ada Allah dengan segala kekuasaan-Nya.

..واالله أعلم باالصواب..

Sumber : Bab Dzikir dalam kitab Tanqih Al-Qaul Al-Hatsis (Syekh Nawawi Al-Bantani)


  

Share:

Rabu, 14 September 2016

KOLOM USTADZ : As`ad Syamsul Arifin / MENAATI ORANG TUA DAN GURU



Sesuatu yang pada mulanya adalah mubah, akan naik tingkat menjadi wajib apabila itu diperintahkan oleh orang tua untuk dilaksanakan. Salah satu bentuk berbuat baik kepada orang tua (birrul walidain) adalah mejalankan semua perintah mereka selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Islam.
Contohnya seperti pagi hari yang agak dingin merona di kota madiun tercinta ini, ketika ibu sudah membikinkan kopi hitam panas dan dihantarkan padaku sambil berkata “Ini kopinya diminum” maka pada saat itu, meminum kopi adalah wajib bagiku, menolaknya adalah sebuah kemaksiatan kepada Allah Ta’ala sekaligus bentuk kedurhakaan kepada orang tua….wal iyadzu billah.
Imam Taqiyyuddin as-Subki memberikan contoh di dalam kitab Risalah Birrul walidain, apabila seorang anak laki-laki yang telah menikah, kemudian orang tuanya memerintahkannya untuk menceraikan istrinya, maka ia harus melaksanakan perceraian itu, tidak boleh tidak.
Dalam sebuah hadits Nabi shalallahu’alaihi wasallam disebutkan, terdapat seorang laki-laki yang medatangi Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam, mengadukan bahwa hartanya diambil oleh bapaknya, mendengar hal itu Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam bersabda
انت ومالك لأبيك
Kamu dan hartamu itu adalah milik bapakmu
Salah satu dosa besar, yang azabnya tidak hanya akan dirasakan nanti di akherat, tetapi akan langsung dirasakan di dunia sebelum kematian datang menjemput adalah dosa sebab durhaka kepada orang tua, sudah banyak contoh kisah mengenai hal ini…na’udzubillah
Guru adalah orang tua kedua bagi anak, mentaati perintahnya adalah sebuah kewajiban sebagaimana mentaati perintah orang tua. Sebagian ulama menyatakan bahwa menaati dan menghormati guru lebih diutamakan dari menaati orang tua, sebagaimana yang disebutkan dalam syair

أقدم أستاذى على نفس والدى** وان نالنى من والدى الفضل والشرف
Aku lebih mengutamakan ustadzku dari orang tua kandungku, meskipun aku mendapatkan dari orang tuaku keutamaan dan kemulyaan

فذاك مرب الروح والروح جوهر** وهذا مرب الجسم والجسم كالصدف
Ustadzku adalah pengasuh jiwaku dan jiwa adalah bagaikan mutiara, sedangkan orang tuaku adalah pengasuh badanku dan badan bagaikan kerangnya

Sebelum menentukan pilihan untuk belajar, seorang harus berhati-hati dan benar-benar menimbang dengan seksama, kepada siapa ia akan belajar. Jika sudah memantapkan hati untuk belajar kepada seorang guru, maka ia harus rela terhadap semua betuk tarbiyyah yang disampaikan oleh gurunya, semuanya. Menaati perintahnya, tidak menentangnya, menghormatinya, tidak berprasangka buruk kepadanya, dsb.
Wajibnya taat tersebut, termasuk pula dalam hal-hal yang bersifat pribadi, seperti harta benda dan diri. Dalam sebuah ungkapan yang cukup terkenal, sayyidina Ali bin Abi Thalib karomallahu wajhah menyampaikan: “Aku adalah hamba sahaya bagi seseorang yang telah mengajariku meskipun satu huruf.”
Di dalam kitab al-Anwar al-Qudsiyyah, syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani menyampaikan
أدب المريد مع شيخه، يلازمه، ويصبر عليه، ويحبه، ويسلم له حاله، ولا يعترض عليه، ولا يتزوج إلا بإذنه، ولا يكتمه شيئا، ويريه فقره إليه، ولا يقول له: لا. يرضى بكل اختياره

Bentuk tatakrama seorang murid kepada gurunya adalah selalu menetapinya, sabar terhadapnya, mencintainya, menyerahkan keadaan dirinya kepadanya, tidak menentangnya, tidak menikah kecuali atas izinnya, tidak menyimpan suatu masalah darinya, tidak berkata “tidak” kepadanya dan ridlo terhadap semua pilihan guru.
Imam Suhrowardi menyampaikan mengenai adab seorang murid kepada guru
وهكذا أدب المريد مع الشيخ أن يكون مسلوب الاختيار لا يتصرف في نفسه وماله إلا بمراجعة الشيخ وأمره
Beginilah tatakrama seorang murid dengan gurunya. Hendaknya seorang murid mengekang keinginannya sendiri, tidak berbuat sesuatu berkaitan dengan diri dan hartanya kecuali atas persetujuan seorang guru atau mendapatkan perintah darinya.
Syaikh Ahmad al-Abyurdi menyampaikan
إياكم والعمل على تغيير قلب شيخكم عليكم فإن من غيّر قلب شيخه عليه، لحقته العقوبة، ولو بعد موت الشيخ
Berhati-hatilah untuk tidak berbuat sesuatu yang bisa merubah hati gurumu kepadamu. Sesungguhnya murid yang merubah kondisi hati gurunya, maka ia akan mendapatkan akibat buruk, meskipun setelah kematian guru
Dalam sebuah kisah disebutkan, bahwa suatu ketika syaikh Abu Turob an-Nakhbasyi dan syaikh Syaqiq al-Balkhi menziarahi syaikh Abu Yazid al-Basthomi. Ketika murid syaikh Abu Yazid datang menghidangkan makanan, dua orang syaikh tersebut berkata; “Makanlah bersama kami wahai anak muda.”
“Tidak, saya sedang puasa,” jawab pemuda itu.
“Makanlah, semoga engkau mendapatkan ganjaran puasa satu bulan!!,” kata syaikh Abu Turob.
Pemuda itu menjawab: “Tidak.”
Syaikh Syaqiq al-Balkhi berkata: “Makanlah, semoga engkau mendapatkan pahala puasa satu tahun!!.”
Pemuda itu menjawab: “Tidak.”
Melihat hal tersebut, syaikh Abu Yazid al-Basthomi yang merupakan guru dari pemuda tadi kemudian berkata: “Biarkanlah ia terperosok jatuh dari penjagaan Allah Azza wa Jall.”
Satu tahun kemudian, diketahui pemuda tersebut mencuri sejumlah harta, ia lalu mendapatkan hukuman potong tangan atas perbuatan yang ia lakukan.
Cerita ini mengajarkan kepada kita tentang akibat seorang murid yang membuat jengkel hati gurunya dan tidak metaatinya.
Syaikh az-Zarnuji di dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menyampaikan:

من تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع بالعلم الا قليلا
Barangsiapa yang menyakiti gurunya, maka tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu dan tidak akan bermanfaat ilmunya kecuali sedikit
Semoga kita semua dianugrahi Allah Ta’ala kemudahan untuk bisa taat, hormat dan berbuat baik kepada orang tua dan guru kita semua….amiiin.

اللهم انفعنا بما علمتنا وعلمنا ما ينفعنا اللهم فقهنا في الدين والهمنا علماً نعرف به أوامرك ونجتنب به نواهيك

اللهم ارزق ابي وامي وجميع استاذي الجنة
Madiun, 12 Dzulhijjah 1437 H

Share:

Rabu, 08 Juni 2016

Kolom : Nadirsyah Hosen / Terlupa makan atau minum saat puasa, harus di qadha-kah?


Para ulama berdiskusi mengenai kasus seperti ini: di siang hari Ramadan kita lupa minum atau makan, apakah kemudian kita wajib meng-qadha-nya di luar Ramadan atau tidak? Kasus ini dijadikan topik bahasan oleh Dr Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam kitabnya Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa'id al-Ushuliyyah fi ikhtilaf al-Fuqaha mengenai perbedaan pendapat ulama dikarenakan masalah ada atau tiadanya Hadis dalam soal semacam ini.
Mari kita simak bersama, bagaimana para ulama mendiskusikannya. Pertama, para ulama sepakat bahwa minum/makan karena lupa di bulan puasa tidak berdosa. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat apakah puasa yang sudah makan/minum karena lupa saat itu sudah dianggap cukup memenuhi persyaratan puasa atau tidak. Jikalau sudah dianggap cukup, maka tidak perlu meng-qadha-nya (menggantinya di hari lain). Kalau dianggap tidak memenuhi suarat dan rukun puasa, maka harus diganti di hari lain.
Mayoritas ulama (Syafi'i, Hanbali dan Hanafi) mengatakan orang tersebut tidak perlu meng-qadha puasanya. Ini berbeda dengan opini mazhab Maliki.
Berulangkali saya sampaikan bahwa semua mazhab fiqh itu berdasarkan dalil. Jadi, mereka tidak sembarangan mengeluarkan pendapat. Pangkal persoalan dalam kasus ini adalah adanya riwayat Hadits yang diterima oleh kelompok mayoritas, akan tetapi keberadaan Hadits dalam hal ini ditolak oleh para ulama mazhab Maliki.
Hadits pertama riwayat Abu Hurairah, "Barangsiapa yang lupa sementara dia dalam kondisi puasa, kemudian makan atau minum. Maka hendaknya dia sempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.”
Hadits ini disepakati oleh empat mazhab, tapi mereka berbeda dalam memahami nya. Imam Malik memahaminya: puasa orang yang lupa tersebut sudah batal, dan dia dipersilakan untuk tidak meneruskan makan-minumnya sampai sempurnanya hari itu. Hadis ini tidak mengatakan bahwa orang tersebut tidak perlu meng-qadha, karena itu Imam Malik berpendapat orang yang lupa ini tetap harus meng-qadha puasanya.
Jumhur ulama menyodorkan hadits kedua, yang terdapat dalam Sunan Al-Daruqutni dengan tambahan kalimat "dan dia tidak perlu meng-qadha-nya". Imam Malik tidak menerima riwayat kedua ini. Bahkan menurut beliau riwayat kedua ini bertentangan dengan kaidah umum syariah mengenai puasa, yaitu semua ibadah itu ada syarat dan rukunnya. Kaidah umum ini berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak. Misalnya, tanpa wudhu, shalat itu tidak sah.
Nah, dalam hal puasa, rukunnya itu harus menahan diri dari makan, minum dan syahwat. Ketika sudah dilanggar ketentuan ini maka menurut Imam Malik batallah puasanya baik karena sengaja atau lupa. Hanya saja kalau karena lupa maka pelakunya tidak berdosa berdasarkan riwayat Hadits orang yang lupa atau terpaksa itu tidak berdosa.
Hadis Daruqutni di atas yang menyebutkan tidak perlunya memg-qadha, bagi Imam Malik, kalaupun dianggap sahih, maka ia hanyalah hadits ahad, yang tidak bisa menggugurkan kaidah umum keagamaan dalam hal syarat dan rukun ibadah.
Yang menarik, ternyata Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya justru mensahihkan Hadits riwayat Daruqutni di atas dan berbeda pandangan dengan Imam Malik. Hal ini menarik karena Imam Qurthubi sebenarnya mengikuti mazhab Maliki, namun dalam kasus ini beliau menganggap argumentasi Imam Syafi'i dan jumhur ulama lebih kuat.
Saya baru saja meringkaskan bagaimana para ulama berdiskusi dalam masalah fiqh. Sudah merupakan watak fiqh untuk berbeda pendapat. Penjelasan Dr Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam kitabnya Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa'id al-Ushuliyyah fi ikhtilaf al-Fuqaha paling tidak mengilustrasikan kepada kita bagaimana para ulama memahami dalil umum dan dalil khusus, dan bagaimana menerima atau menolak keberadaan dan/atau kedudukan riwayat Hadits.
Jadi, kesimpulannya orang yang makan/minum karena lupa di siang hari Ramadan tidak berdosa, tidak batal puasanya dan tidak perlu menggantinya di hari lain. Pendapat jumhur ulama lebih kuat dalam hal ini dibanding pendapat Imam Malik. Kalau ada yang berpegang pada mazhab Maliki dalam kasus ini, ya kita saling menghormati saja, dan kita persilakan yang bersangkutan andaikata lupa makan/minum di saat berpuasa untuk menggantinya di hari lain.
Dalil dari al-Qur'an dan Hadits itu bukan seperti kacang goreng, yang begitu terhidang, lantas dimakan begitu saja. Para ulama memeras otak mereka sebelum menerima atau menolak hidangan dalil tersebut. Yang paling aman, selagi mereka berpikir keras, kita kantongin saja dulu kacang gorengnya buat dimakan entar pas buka puasa, siapa tahu kita lupa dan merogoh kacangnya :)
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School
Share:

Selasa, 07 Juni 2016

GP MENGAJI / HUKUM PATUNG DALAM ISLAM





Seni merupakan salah satu aspek yang sudah sangat erat dengan kehidupan masyarakat. Hal tersebut telah menyatu sejak bertahun-tahun lamaya. Seni sendiri merupakan ekspresi keindahan dari pembuatnya yang diwujudkan dalam suatu bentuk hasil karya. Hasilnya bisa bermacam-macam, seperti lukisan, ukiran, pernak-pernik, kaligrafi, patung, dan lain sebagianya. Bagi penikmatnya, karya seni seperti ini merupakan barang berharga yang bernilai tinggi. Namun,di sisi lain ada juga sebagian orang yang memandang bahwa hal-hal seperti itu justru malah mendatangkan keburukan.
Salah satu karya seni yang sering menjadi perdebatan adalah patung. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang mungkin memiliki penilaian berbeda terhadap suatu hal, termasuk pada karya seni tertentu. Salah satu yang ikut menyoroti hal ini datang dari kelompok keagamaan, khususnya Islam. Terhadap hal ini ada yang bersikap longgar dan ada yang menentang keras. Keduanya memiliki alasan tersendiri yang berimplikasi pada hukum patung tersebut. Umumnya, mereka yang melarang adalah kelompok yang ketat dalam memegang dogma agama.
Mayoritas orang beranggapan bahwa patung-patung tersebut terlebih lagi gambar-gambar telah menjadi perkara yang halal karena tidak adanya orang yang menyembah atau mengibadahinya pada masa sekarang ini. Dari segi teologis, anggapan mereka ini tertolak dari beberapa sisi:
Pertama, bahwasanya peribadahan terhadap patung-patung dan gambar-gambar senantiasa ada pada zaman ini. Kita lihat patung Nabi ‘Isa dan Ibunya, Maryam, diibadahi di gereja-gereja, sampai-sampai mereka ruku’ (membungkuk) kepada salib. Bahkan ada semacam papan hias bergambar ‘Isa dan Maryam yang dijual dengan harga yang sangat mahal dan digantungkan di rumah-rumah agar bisa diibadahi dan diagungkan.
Kedua, patung-patung para pemimpin di negara-negara yang maju secara material namun terbelakang secara spiritual, orang-orang membuka tutup kepala mereka untuk patung-patung tersebut dan membungkukkan badan ketika melewatinya. Di antara contohnya, seperti patung George Washington di Amerika Serikat, Napoleon di Perancis, Lenin dan Stalin di Rusia, serta patung-patung lain yang diletakkan di jalan-jalan, di mana orang-orang ruku’ atau membungkuk ketika melewatinya.
Gagasan tentang patung ini menjalar ke sebagian negara-negara Arab. Mereka memngikuti orang-orang kafir dengan membangun patung-patung di jalan-jalan mereka. Dan patung-patung ini terus-menerus dibuat dan dipasang di negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya. Hal semacam ini sebenarnya perlu dipertimbangkan lagi. Hemat penulis, pembuatan patung-patung sebagai hiasan yang di tempatkan di setiap sudut kota tentunya perlu mengalokasikan dana yang tidak sedikit. Maka kenapa tidak mengalihkan dana pembuatan patung ini untuk membangun masjid-masjid, sekolah, rumah sakit, dan lembaga-lembaga sosial sehingga manfaatnya lebih terasa dan tidak menjadi masalah bila menamakan bangunan-bangunan tersebut dengan nama para tokoh pemimpin itu.
Di dalam kitab al-Halal wa al-Harom karangan Yusuf Qordhowi dijelaskan bahwa Islam sangat melarang atau mengharamkan patung dalam rumah, sebab adanya patung didalam rumah menyebabkan malaikat akan jauh dari rumah itu, padahal malaikat akan membawa rahmat dan keridhaan Allah untuk isi rumah tersebut. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang artinya:
"Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ulama-ulama juga mengatakan bahwa malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patungnya, karena pemiliknya itu menyerupai orang kafir, di mana mereka biasa meletakkan patung dalam rumah-rumah mereka untuk diagungkan. Untuk itulah malaikat tidak suka dan mereka tidak mau masuk bahkan menjauh dari rumah tersebut.
Oleh karenanya, Islam melarang keras seorang muslim bekerja sebagai tukang pemahat patung, sekalipun dia membuat patung itu untuk orang lain. Sabda Rasulullah SAW.: "Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat lain juga dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah." (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan Rasulullah SAW. memberitahukan juga dengan sabdanya bahwa orang yang membuat gambar (ptung) kelak di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh pada gambar buatannya tersebut, namun selamanya ia tidak akan pernah bisa.
Dalam memahami hadis-hadis yang membahas tentang gambar dan patung tersebut, hendaknya kita memahami bagaimana konteks kehidupan di masa Nabi yang masih rawan goyah keimanan umatnya dan di masa sekarang ini. Apabila konteks pada zaman dahulu dan sekarang telah mengalami perbedaan, maka dalam memahami hadis tersebut juga bisa terjadi perubahan. Jika goyahnya iman tidak lagi menjadi kekhawatiran di masa sekarang, maka kebolehan membuat patung dan gambar menjadi lebih longgar. Dengan begitu, setiap orang masih bisa mengekspresikan bentuk kecintaannya dan berkreasi dengan seni.

..واالله أعلم باالصواب..


Sumber : kitab al-Halal wa al-Harom (Yusuf Qordhowi)
Share: