Rabu, 08 Juni 2016

Kolom : Nadirsyah Hosen / Terlupa makan atau minum saat puasa, harus di qadha-kah?


Para ulama berdiskusi mengenai kasus seperti ini: di siang hari Ramadan kita lupa minum atau makan, apakah kemudian kita wajib meng-qadha-nya di luar Ramadan atau tidak? Kasus ini dijadikan topik bahasan oleh Dr Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam kitabnya Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa'id al-Ushuliyyah fi ikhtilaf al-Fuqaha mengenai perbedaan pendapat ulama dikarenakan masalah ada atau tiadanya Hadis dalam soal semacam ini.
Mari kita simak bersama, bagaimana para ulama mendiskusikannya. Pertama, para ulama sepakat bahwa minum/makan karena lupa di bulan puasa tidak berdosa. Akan tetapi para ulama berbeda pendapat apakah puasa yang sudah makan/minum karena lupa saat itu sudah dianggap cukup memenuhi persyaratan puasa atau tidak. Jikalau sudah dianggap cukup, maka tidak perlu meng-qadha-nya (menggantinya di hari lain). Kalau dianggap tidak memenuhi suarat dan rukun puasa, maka harus diganti di hari lain.
Mayoritas ulama (Syafi'i, Hanbali dan Hanafi) mengatakan orang tersebut tidak perlu meng-qadha puasanya. Ini berbeda dengan opini mazhab Maliki.
Berulangkali saya sampaikan bahwa semua mazhab fiqh itu berdasarkan dalil. Jadi, mereka tidak sembarangan mengeluarkan pendapat. Pangkal persoalan dalam kasus ini adalah adanya riwayat Hadits yang diterima oleh kelompok mayoritas, akan tetapi keberadaan Hadits dalam hal ini ditolak oleh para ulama mazhab Maliki.
Hadits pertama riwayat Abu Hurairah, "Barangsiapa yang lupa sementara dia dalam kondisi puasa, kemudian makan atau minum. Maka hendaknya dia sempurnakan puasanya. Sesungguhnya Allah telah memberi makan dan minum kepadanya.”
Hadits ini disepakati oleh empat mazhab, tapi mereka berbeda dalam memahami nya. Imam Malik memahaminya: puasa orang yang lupa tersebut sudah batal, dan dia dipersilakan untuk tidak meneruskan makan-minumnya sampai sempurnanya hari itu. Hadis ini tidak mengatakan bahwa orang tersebut tidak perlu meng-qadha, karena itu Imam Malik berpendapat orang yang lupa ini tetap harus meng-qadha puasanya.
Jumhur ulama menyodorkan hadits kedua, yang terdapat dalam Sunan Al-Daruqutni dengan tambahan kalimat "dan dia tidak perlu meng-qadha-nya". Imam Malik tidak menerima riwayat kedua ini. Bahkan menurut beliau riwayat kedua ini bertentangan dengan kaidah umum syariah mengenai puasa, yaitu semua ibadah itu ada syarat dan rukunnya. Kaidah umum ini berdasarkan dalil-dalil yang sangat banyak. Misalnya, tanpa wudhu, shalat itu tidak sah.
Nah, dalam hal puasa, rukunnya itu harus menahan diri dari makan, minum dan syahwat. Ketika sudah dilanggar ketentuan ini maka menurut Imam Malik batallah puasanya baik karena sengaja atau lupa. Hanya saja kalau karena lupa maka pelakunya tidak berdosa berdasarkan riwayat Hadits orang yang lupa atau terpaksa itu tidak berdosa.
Hadis Daruqutni di atas yang menyebutkan tidak perlunya memg-qadha, bagi Imam Malik, kalaupun dianggap sahih, maka ia hanyalah hadits ahad, yang tidak bisa menggugurkan kaidah umum keagamaan dalam hal syarat dan rukun ibadah.
Yang menarik, ternyata Imam al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya justru mensahihkan Hadits riwayat Daruqutni di atas dan berbeda pandangan dengan Imam Malik. Hal ini menarik karena Imam Qurthubi sebenarnya mengikuti mazhab Maliki, namun dalam kasus ini beliau menganggap argumentasi Imam Syafi'i dan jumhur ulama lebih kuat.
Saya baru saja meringkaskan bagaimana para ulama berdiskusi dalam masalah fiqh. Sudah merupakan watak fiqh untuk berbeda pendapat. Penjelasan Dr Muhammad Hasan Abdul Ghaffar dalam kitabnya Atsar al-Ikhtilaf fi al-Qawa'id al-Ushuliyyah fi ikhtilaf al-Fuqaha paling tidak mengilustrasikan kepada kita bagaimana para ulama memahami dalil umum dan dalil khusus, dan bagaimana menerima atau menolak keberadaan dan/atau kedudukan riwayat Hadits.
Jadi, kesimpulannya orang yang makan/minum karena lupa di siang hari Ramadan tidak berdosa, tidak batal puasanya dan tidak perlu menggantinya di hari lain. Pendapat jumhur ulama lebih kuat dalam hal ini dibanding pendapat Imam Malik. Kalau ada yang berpegang pada mazhab Maliki dalam kasus ini, ya kita saling menghormati saja, dan kita persilakan yang bersangkutan andaikata lupa makan/minum di saat berpuasa untuk menggantinya di hari lain.
Dalil dari al-Qur'an dan Hadits itu bukan seperti kacang goreng, yang begitu terhidang, lantas dimakan begitu saja. Para ulama memeras otak mereka sebelum menerima atau menolak hidangan dalil tersebut. Yang paling aman, selagi mereka berpikir keras, kita kantongin saja dulu kacang gorengnya buat dimakan entar pas buka puasa, siapa tahu kita lupa dan merogoh kacangnya :)
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Selasa, 07 Juni 2016

Kolom : Resume Ngaji / Hukum Patung Dalam Islam




Seni merupakan salah satu aspek yang sudah sangat erat dengan kehidupan masyarakat. Hal tersebut telah menyatu sejak bertahun-tahun lamaya. Seni sendiri merupakan ekspresi keindahan dari pembuatnya yang diwujudkan dalam suatu bentuk hasil karya. Hasilnya bisa bermacam-macam, seperti lukisan, ukiran, pernak-pernik, kaligrafi, patung, dan lain sebagianya. Bagi penikmatnya, karya seni seperti ini merupakan barang berharga yang bernilai tinggi. Namun,di sisi lain ada juga sebagian orang yang memandang bahwa hal-hal seperti itu justru malah mendatangkan keburukan.
Salah satu karya seni yang sering menjadi perdebatan adalah patung. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang mungkin memiliki penilaian berbeda terhadap suatu hal, termasuk pada karya seni tertentu. Salah satu yang ikut menyoroti hal ini datang dari kelompok keagamaan, khususnya Islam. Terhadap hal ini ada yang bersikap longgar dan ada yang menentang keras. Keduanya memiliki alasan tersendiri yang berimplikasi pada hukum patung tersebut. Umumnya, mereka yang melarang adalah kelompok yang ketat dalam memegang dogma agama.
Mayoritas orang beranggapan bahwa patung-patung tersebut terlebih lagi gambar-gambar telah menjadi perkara yang halal karena tidak adanya orang yang menyembah atau mengibadahinya pada masa sekarang ini. Dari segi teologis, anggapan mereka ini tertolak dari beberapa sisi:
Pertama, bahwasanya peribadahan terhadap patung-patung dan gambar-gambar senantiasa ada pada zaman ini. Kita lihat patung Nabi ‘Isa dan Ibunya, Maryam, diibadahi di gereja-gereja, sampai-sampai mereka ruku’ (membungkuk) kepada salib. Bahkan ada semacam papan hias bergambar ‘Isa dan Maryam yang dijual dengan harga yang sangat mahal dan digantungkan di rumah-rumah agar bisa diibadahi dan diagungkan.
Kedua, patung-patung para pemimpin di negara-negara yang maju secara material namun terbelakang secara spiritual, orang-orang membuka tutup kepala mereka untuk patung-patung tersebut dan membungkukkan badan ketika melewatinya. Di antara contohnya, seperti patung George Washington di Amerika Serikat, Napoleon di Perancis, Lenin dan Stalin di Rusia, serta patung-patung lain yang diletakkan di jalan-jalan, di mana orang-orang ruku’ atau membungkuk ketika melewatinya.
Gagasan tentang patung ini menjalar ke sebagian negara-negara Arab. Mereka memngikuti orang-orang kafir dengan membangun patung-patung di jalan-jalan mereka. Dan patung-patung ini terus-menerus dibuat dan dipasang di negara-negara Arab dan negara-negara Islam lainnya. Hal semacam ini sebenarnya perlu dipertimbangkan lagi. Hemat penulis, pembuatan patung-patung sebagai hiasan yang di tempatkan di setiap sudut kota tentunya perlu mengalokasikan dana yang tidak sedikit. Maka kenapa tidak mengalihkan dana pembuatan patung ini untuk membangun masjid-masjid, sekolah, rumah sakit, dan lembaga-lembaga sosial sehingga manfaatnya lebih terasa dan tidak menjadi masalah bila menamakan bangunan-bangunan tersebut dengan nama para tokoh pemimpin itu.
Di dalam kitab al-Halal wa al-Harom karangan Yusuf Qordhowi dijelaskan bahwa Islam sangat melarang atau mengharamkan patung dalam rumah, sebab adanya patung didalam rumah menyebabkan malaikat akan jauh dari rumah itu, padahal malaikat akan membawa rahmat dan keridhaan Allah untuk isi rumah tersebut. Dalam hal ini Rasulullah s.a.w. pernah bersabda yang artinya:
"Sesungguhnya Malaikat tidak akan masuk suatu rumah yang di dalamnya ada patung." (H.R. Bukhari dan Muslim)
Ulama-ulama juga mengatakan bahwa malaikat tidak mau masuk rumah yang ada patungnya, karena pemiliknya itu menyerupai orang kafir, di mana mereka biasa meletakkan patung dalam rumah-rumah mereka untuk diagungkan. Untuk itulah malaikat tidak suka dan mereka tidak mau masuk bahkan menjauh dari rumah tersebut.
Oleh karenanya, Islam melarang keras seorang muslim bekerja sebagai tukang pemahat patung, sekalipun dia membuat patung itu untuk orang lain. Sabda Rasulullah SAW.: "Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari kiamat, yaitu orang-orang yang menggambar gambar-gambar ini. Dalam satu riwayat lain juga dikatakan: Orang-orang yang menandingi ciptaan Allah." (Riwayat Bukhari dan Muslim). Dan Rasulullah SAW. memberitahukan juga dengan sabdanya bahwa orang yang membuat gambar (ptung) kelak di hari kiamat dia akan dipaksa untuk meniupkan roh pada gambar buatannya tersebut, namun selamanya ia tidak akan pernah bisa.
Dalam memahami hadis-hadis yang membahas tentang gambar dan patung tersebut, hendaknya kita memahami bagaimana konteks kehidupan di masa Nabi yang masih rawan goyah keimanan umatnya dan di masa sekarang ini. Apabila konteks pada zaman dahulu dan sekarang telah mengalami perbedaan, maka dalam memahami hadis tersebut juga bisa terjadi perubahan. Jika goyahnya iman tidak lagi menjadi kekhawatiran di masa sekarang, maka kebolehan membuat patung dan gambar menjadi lebih longgar. Dengan begitu, setiap orang masih bisa mengekspresikan bentuk kecintaannya dan berkreasi dengan seni.

Kamis, 02 Juni 2016

Kolom : English Time !


http://englishtimeviveiro.blogspot.co.id/


Kurang lebih tiga tahun yang lalu, sebelum dua kali pergantian kepengurusan, GP sebenarnya memiliki English Club. Keren ya? Pencetusnya adalah Mbak Nabila Munsyarihah yang tulisannya tentang Krapyak juga dimuat di blog ini. Saat itu mungkin mbaknya ingin menyuruhku berbakti dan mengabdi ke pondok, sekaligus berbagi ilmu yang masih dangkal ini, dengan membuat suatu club yang pembelajaran bahasa Inggrisnya bisa menyenangan. Akhirnya kami membuka pendaftaran dan banyak juga Mbak-mbak, panggilan untuk “Guys-sapaan” di GP, yang ingin bergabung.
Pertemuan demi pertemuan pun dijalani. Kegiatannya juga bermacam-macam, mulai dari belajar melafalkan A, I, U, E, O hingga spelling bee, dari menghafalkan kosakata hingga menulis karangan.

Namun seperti yang telah diduga English Club tidak bertahan lama karena ketidak-isqomahan berbagai pihak, akhirnya diliburkan untuk jangka waktu yang tidak terbatas. J
English Club mulai dimunculkan lagi pada kepengurusan selanjutnya. Karena notabene saya dimasukkan ke divisi Pengembangan Sumber Daya Santri (PSDS) jadi saya pikir Mbak-mbak Santri memang membutuhkan Bahasa Inggris sebagai salah satu kompetensi di luar pondok. Akhirnya English Club dimulai lagi dengan format yang tidak beda jauh dengan generasi pendahulunya. Dan diliburkan juga untuk kedua kalinya.
Hingga kepengurusan selanjutnya, yaitu yang sekarang, saya sudah malas memulai kegiatan lagi tanpa komitmen dari semua pihak. Namun semangat belajar tentu saja menjadi dasar yang harus dimiliki semua santri. Prinsip Tholabul ‘Ilmi dan kesadaran bahwa zaman sekarang anak TK saja sudah mahir berbahasa Inggris membuat orang semakin berlomba-lomba. Bahkan yang pintar berbahasa Inggris saja sudah mulai insecure dan ingin mempelajari bahasa asing lainnya. Apalagi yang tidak bisa berbahasa Inggris. Secara pribadi saya lelah kalau mengajar dengan mengejar materi yang tak seberapa. Rasanya rendah dan tidak bahagia. Jadi saya hanya ingin berbagi.

Hanya beberapa menit jarkoman pendaftaran forum English di beberapa grup sudah penuh. Kuota satu forum hanya 5 orang dan forum tidak akan dimulai jika kelima-limanya tidak lengkap kehadirannya. Alhamdulillah sudah lumayan istiqomah, cara belajarnya dibuat langsung praktik sehingga tidak membosankan. Saya harap keistiqomahan ini terus berjalan dan teman-teman yang ikut benar-benar merasakan manfaatnya. Jadi inilah yang kami kerjakan pada pertemuan terakhir: Ulasan mengenai para ustadz Gedung Putih yang sangat berjasa pada kami. Belum semua Ustadz karena anggota kami hanya lima, namun semoga tidak ada kekeliruan yang berarti pada ulasan ini sehingga saya meminta maaf apabila ada siapapun yang kurang berkenan. 

With some edits, here are the writings
by: FN
Here I would like to describe our diligent teacher whom we fully respect, Mr. Nasrudin. He is one of very sincere teachers that I have ever met. The fact that he is still young doesn’t make him to be arrogant or vicious teacher, but he makes us very comfortable in learning. He is never angry knowing sometimes we fall asleep during the class. He also never shows his disappointment when we don’t respond him properly, instead he always tried to make the class happy with little jokes and stories. He lets us to ask literally about everything and answers the questions patiently until we completely understand. His sincerity and spirit is really proven when he kept teaching us although the rain is very heavy out there. I hope I can be better and more diligent in attending and studying in the class.

by: TM
Gus Ghofur is the son of Mbah Maimoen Zubair and the son in law of Ibu Lutfiah. Altough he was only teaching us for one year because he had to move to Sarang and build Islamic boarding school there, but he is one of my favorite teachers in Gedung Putih. The way he taught made me understand what is written in Kitab. He always added explanation about the topic through history and knowledge he got from other resources even about biography of Hadith interprets. Besides I like his teaching, he inspires us to be humble and determined.



by: TD
Mr. Sahiron is a lecturer in UIN Suka who teaches in the Faculty of Islamic Theology. He teaches Manba’us Sa’adah dan Ta’lim. He is smart and I like the way he matches traditional perspective with the modern one especially about Al-Quran study. His explanation is very holistic. He is also humble and friendly. He respects those who are different with him. Although he is very busy, he still spares his time to Gedung Putih as the matter of responsibility. I like him so much.

by: AS
K.H Abdul Mustqim is a lecturer in the faculty of theology at state Islamic university yogyakarta in major hadith interpretation. He lives in Imogiri . He is a religious teacher whom I think is very good in conveying the contents of the book because in conveying of material he corresponds to the language and context of academia . Besides, he also has a different teaching method that is not only listenng but asking the students to read and write important points by dividing the students into several groups. This makes the learning process becomes alive and I think this method is in accordance with student. The other side that I caught from him is his love to family because in every learning he would tell about his wife and their children development in boarding school. His figure is firm and nice in appearance, one of the uniqueness from him is a black jacket and cap a variety of colors.

by: AR
Well, I hope that this is the correct impression to our beloved teacher, Mr. Ikhsan. He is a seriously smart person, who loves to read books. He has a lot of knowledge about everything from traditional to modern perspective. However I still admit that he has a strict principle towards Fiqh, with no dispensation. But it doesn’t make him look scary. He taught us with enthusiasm and fun way so it makes us comfortable to hear what he taught.

Jumat, 20 Mei 2016

#FashionTips : Celana ‘Aman’ untuk Santriwati




Terkadang memang ada masanya dimana Santriwati (red: perempuan) perlu dan atau bosan menggunakan Rok dalam kehidupan sehari-harinya. Selain karena menggunakan rok itu ribet, apalagi ketika memasuki musim hujan, setiap pulang dari kampus rok basah dan kotor sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan, ada beberapa perempuan merasa kurang percaya diri menggunakan rok, karena terbiasa menggunakan celana.
Tetapi, menggunakan rok sudah menjadi saran utama atau bisa kita bilang kewajiban untuk menggunakannya di Pondok Pesantren, biar nggak saru katanya. Dilema ya? Males pake rok tapi wajib eh, gimana dong?
Nah, beruntunglah kalian karena Tren Celana Palazzo atau Celana Culottes atau Celana Gauchos kembali lagi. Celana-celana jenis ini biasanya menjadi Hot Trend ketika memasuki musim semi, karena bentuk celananya yang tidak ketat, seperti tabung, bahkan beberapa ada yang berbentuk seperti  rok hanya saja bagian tengahnya terjahit seperti celana yang memberikan kesan semilir menyambut musim panas gitu, ehehe, berbeda dengan skinny pants yang biasa digunakan untuk musim dingin karena modelnya yang ketat dan simple.

http://www.polyvore.com/fashion_trends_spring_summer_2015/set?id=145773757
Tren celana ini bukan hanya menjamur di negara 4 musim saja, nampaknya Indonesia sedang terpengaruh juga, beberapa Selebgram, Onlineshop, dan Fashion Blogger berlomba-lomba memadu-padankan Celana Palazzo, Celana Culottes atau Celana Gauchos sesuai dengan style mereka.
Keuntungan menggunakan Celana Palazzo, Celana Culottes atau Celana Gauchos adalah bisa digunakan untuk semua tipe badan, mau yang kurus kerontang sampai yang gemuk ginuk-ginukpun bisa menggunakannya.



Keuntungan yang paling penting adalah nggak bakal disita sama pengurus pondok, hehe, karena model dan bentuknya longgar jadi tidak meninggalkan kesan saru terhadap style kalian. Tips nih biar lebih aman lagi menggunakan Celana Palazzo, Celana Culottes atau Celana Gauchos adalah padu padankan dengan atasan yang menutup pantat, karena celana model ini cocok banget dipadukan dengan  atasan oversized atau panjang.

http://www.ardiatami.com/2015/12/fifty-shades-of-peach-and-grey.html


Jadi, masih dilema nih? Coba pakai Celana Palazzo, Celana Culottes atau Celana Gauchos saja, barangkali jodoh eh…cocok, hihi. Jangan lupa ketika sudah rapi menggunakan celana tren ini dan bersiap untuk menjalani aktivitas, senyum dan percaya dirinya dipake juga, because You are never fully dressed without a SMILE!