Rabu, 20 April 2016


Pergulatan Batin R.A Kartini 

Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

       Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.

       selama dalam masa dipingit, Kartini merasa sangat bosan, hingga beliau lebih banyak menghabiskan waktnya untuk surat menyurat dengan sahabat-sahabat penanya. Dalam suratnya kepada Stella Zihandelaar bertanggal 6 November 1899, RA Kartini menulis;Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?Alquran terlalu suci; tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti Bahasa Arab. Di sini, orang belajar Alquran tapi tidak memahami apa yang dibaca.Aku pikir, adalah gila orang diajar membaca tapi tidak diajar makna yang dibaca. Itu sama halnya engkau menyuruh aku menghafal Bahasa Inggris, tapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?

        RA Kartini melanjutkan curhat-nya, tapi kali ini dalam surat bertanggal 15 Agustus 1902 yang dikirim ke Ny Abendanon.Dan waktu itu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak tahu apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Alquran, belajar menghafal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa asing yang tidak aku mengerti artinya. Jangan-jangan, guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepada aku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa. Kita ini teralu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.

       Hingga pada akhirnya , R.A kartini bertemu dengan Kyai Sholeh Darat . Kalau membaca surat surat Kartini yang diterbitkan oleh Abendanon dari Belanda, terkesan Raden Ajeng Kartini sudah jadi sekuler dan penganut feminisme. Namun kisah berikut ini semoga bisa memberi informasi baru mengenai apresiasi Kartini pada Islam dan Ilmu Tasawuf. Mengapa? Karena dalam surat surat RA Kartini yang notabene sudah diedit dan dalam pengawasan Abendanon yang notabene merupakan aparat pemerintah kolonial Belanda plus Orientalis itu, dalam surat surat Kartini beliu sama sekali tidak menceritakan pertemuannya dengan Kyai Sholeh bin Umar dari Darat, Semarang lebih dikenal dengan sebutan Kyai Sholeh Darat. Alhamdullilah, Ibu Fadhila Sholeh, cucu Kyai Sholeh Darat, tergerak menuliskan kisah ini.

      Takdir, menurut Ny Fadihila Sholeh, mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat. Pertemuan terjadi dalam acara pengajian di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kemudian ketika berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak, RA Kartini menyempatkan diri mengikuti pengajian yang diberikan oleh Mbah Sholeh Darat. Saat itu beliau sedang mengajarkan tafsir Surat al-Fatihah. RA Kartini menjadi amat tertarik dengan Mbah Sholeh Darat.

      Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

         Setelah pengajian, Kartini mendesak pamannya untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat. Sang paman tak bisa mengelak, karena Kartini merengek-rengek seperti anak kecil. Berikut dialog Kartini-Kyai Sholeh.Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya? Kartini membuka dialog. Kyai Sholeh tertegun, tapi tak lama. Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian? Kyai Sholeh balik bertanya.Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku, ujar Kartini. Kyai Sholeh tertegun. Sang guru seolah tak punya kata untuk menyela. Kartini melanjutkan; Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah. Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia? Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali subhanallah. Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa.

Habis Gelap Terbitlah Terang
        Dalam pertemuan itu RA Kartini meminta agar Quran diterjemahkan karena menurutnya  tidak ada gunanya membaca kitab suci yang tidak diketahui artinya.  Tetapi pada waktu itu penjajah Belanda secara resmi melarang orang menerjemahkan al-Quran.  Mbah Sholeh Darat melanggar larangan ini, Beliau menerjemahkan Quran dengan ditulis dalam huruf arab gundul (pegon) sehingga tak dicurigai penjajah. Kitab tafsir dan terjemahan Quran ini diberi nama Kitab Faidhur-Rohman, tafsir pertama di Nusantara dalam bahasa Jawa dengan aksara Arab. Kitab ini pula yang dihadiahkannya kepada R.A. Kartini pada saat dia menikah  dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang.  Kartini amat menyukai hadiah itu dan mengatakan:Selama ini Al-Fatihah gelap bagi saya.  Saya tak mengerti sedikitpun maknanya. Tetapi sejak hari  ini ia menjadi terang-benderang sampai kepada makna tersiratnya,  sebab Romo Kyai telah menerangkannya dalam bahasa Jawa  yang saya pahami.
{inilah dasar dari buku Habis gelap terbitlah terang bukan dari sekumpulan surat menyurat beliau,.. sejarah telah di simpangkan, (penulis red)}. Melalui terjemahan Mbah Sholeh Darat itulah RA Kartini menemukan ayat yang amat menyentuh nuraninya yaitu:

Orang-orang beriman dibimbing Alloh dari gelap menuju cahaya (Q.S. al-Baqoroh: 257).

      Dalam banyak suratnya kepada Abendanon,  Kartini banyak mengulang kata Dari gelap menuju cahaya yang ditulisnya dalam bahasa Belanda: Door Duisternis Toot Licht. Oleh Armijn Pane ungkapan ini diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang, yang menjadi judul untuk buku kumpulan surat-menyuratnya.

        Surat yang diterjemahkan Kyai Sholeh adalah Al Fatihah sampai Surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Namun sayangnya penerjemahan Kitab Faidhur-Rohman ini tidak selesai karena Mbah Kyai Sholeh Darat keburu wafat. Kyai Sholeh membawa Kartini ke perjalanan transformasi spiritual. Pandangan Kartini tentang Barat (baca: Eropa) berubah. Perhatikan surat Kartini bertanggal 27 Oktober 1902 kepada Ny Abendanon. Sudah lewat masanya, semula kami mengira masyarakat Eropa itu benar-benar yang terbaik, tiada tara. Maafkan kami. Apakah ibu menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal yang sama sekali tidak patut disebut peradaban. Tidak sekali-kali kami hendak menjadikan murid-murid kami sebagai orang setengah Eropa, atau orang Jawa kebarat-baratan. Dalam suratnya kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, Kartini juga menulis;
Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai.
Lalu dalam surat ke Ny Abendanon, bertanggal 1 Agustus 1903, Kartini menulis; Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu Hamba Allah.

Demikianlah pergulatan batin yang dialami Kartini, dimana pada awalnya beliau tidak mau menjalani syariat, tidak mau sholat maupun mengaji karena tidak mengetahui tujuan dari ibadah tersebut, hingga pada akhirnya terjemah alquran berbahasa jawa yang ditulis oleh Kyai Sholeh Darat menjadi pencerahan untuk seorang Kartini dalam memahami dan beragama.
Tidakkah kita menjadi perlu untuk mendefinisikan ulang apa makna islam bagi diri kita? apa guna kita beragama, dan menjalankan ibadah yang selama ini diajarkan? benarkah kita sudah menjadi islam? jangan-jangan hanya karena orang tua kita islam sajalah kita menjadi islam? sudahkah kita ikhlas dan benar-benar berserah pada-Nya? semoga kita menjadi golongan yang terus memiliki ketetapan iman, dan mejadi pribadi-pribadi yang selalu haus belajar.

Source : Dari berbagai sumber

untuk para muslimin dan para muslimat yang dikasihi Allah SWT, Gedung Putih pada kesempatan kali ini pengen berbagi sedikit ilmu tentang najis, ada di bab Thaharah pada kitab Fath Al Qarib , ini juga bisa jadi jawaban tentang kejadian kemarin yang sempat menghebohkan para netizen tentang seorang ustadz di papua yang merawat seekor anjing , dan membiarkanya berkeliaran. sebenernya bagaimana sih hukumnya? mari kita simak , hasil resume kita mengaji kitab Fath Al Qarib :

Jenis najis berdasarkan beratnya :

1.       Mugholadzoh: sebabnya adalah seluruh tubuh anjing dan babi, termasuk air liur (jilatan), bulu, daging, kulit

2.       Mutawasithoh : najis di antara yang mugholadzoh dan mukhofafah

3.       Mukhaffafah: air seni bayi laki-laki kurang dari dua tahun yang belum mendapatkan asupan apapun selain asi.

Cara menyucikan:
1.       Najis Mugholadzoh disucikan dengan menggunakan air suci, dibasuh tujuh kali dengan salah satunya dicampur debu suci. Basuhan air yang dicampur debu diusahakan sebelum basuhan terakhir.
Debu yang digunakan bukan debu yang najis yaitu berasal dari benda najis, mutanajis yaitu terkena najis, dan musta’mal yaitu pernah digunakan untuk bersuci. harus dipastikan debu tersebut merupakan debu yang suci.

2.       Najis Mutawasitoh disucikan dengan cara menghilangkan najis terlebih dahulu, lalu menyiramkan air suci dan menyucikan ke benda yang terkena najis hingga hilang dari segi rasa, wujud, dan baunya. Pembasuhan sebanyak 3 kali tetap lebih utama.

3.       Najis Mukhoffafah disucikan cukup dengan mencipratkan air ke bagian yang terkena najis.

Dalam Fiqh Syafi’iyah, basuhan 7 kali ini dibahas dalam masalah ubudiyah, yang penentuannya berasal dari Allah, Rasul berkata demikian. Debu tidak boleh diganti dengan sabun, tetapi sabun boleh dijadikan pelengkap dalam membersihkan najis Mugholadzoh.
Apabila penyucian najis mugholazoh dilakukan di sungai yang mengalir, air terjun, atau kolam besar, maka basuhan sebanyak 7 kali bisa dilakukan dengan menggosok sebagai isyarat saja.
Apabila terdapat Najis Mugholadzoh di tempat yang ada debunya, maka penyucian tinggal dilakukan 7 kali basuhan dengan air.

nah, islam sendiri memberikan cara - cara untuk menghilangkan najis, dan mengklasifikasikan najis itu sendiri kedalam 3 jenis najis yang berbeda. 
ngomong - ngomong tentang najis, ada humor lucu nih tentang seorang ustadz di papua yang dimintai tolong untuk menyembuhkan seekor anjing.. silakan disimak juga ustadz menyembuhkan anjing
sekian dulu ya, semoga bermanfaat.. 

Selasa, 13 November 2012

Short Course Pra Nikah: Di Atas Cinta Ada Mawaddah dan Amanah


OVERVIEW
Pernikahan adalah anjuran agama. Keterikatan antara seorang lelaki dan seorang perempuan merupakan kebutuhan setiap orang  yang bersifat naluriah. Selain itu, pernikahan bertujuan untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur. Lebih dari itu, pernikahan  bahkan menjadi kebutuhan bagi kesempurnaan hidup manusia.

Menuju jenjang pernikahan hingga menjalani kehidupan rumah tangga,  ada tahapan-tahapan yang harus dilalui muslimin muslimat untuk mewujudkan keluaraga mawaddah, sakinah, wa rahmah. Berdasarkan hal tersebut kami santri komplek Gedung Putih berinisiatif untuk mengadakan pelatihan Pra-Nikah, dengan tujuan memberikan gambaran proses yang akan ditempuh oleh muslimin dan muslimat dari sejak  taâaruf hingga ke jenjang pernikahan dengan berbagai pendekatan perspektif.

 TUJUAN KEGIATAN
Tujuan pelatihan pra-nikah yang berjudul SHORT COURSE PRA NIKAH: “DI..ATAS MAWADDAH ADA CINTA DAN AMANAH” adalah:
1.      Sebagai pembelajaran generasi muda seputar pernikahan sesuai syariah  Islam
2.     Mampu merealisasikan tahapan-tahapan pernikahan sesuai nilai-nilai Islam
3.     Mampu meresapi dan merefleksikan visi-misi pernikahan

PENYELENGGARAAN
Kegiatan ini akan diselenggarakan dalam delapan minggu dengan rentang waktu   2  Desember 2012 sampai 20 Jauari 2013. Pelatihan ini terdiri dari delapan sesi  yang hanya akan ada satu sesi setiap minggunya setiap hari Ahad pukul  09.00-11.00.  Acara ini akan diadakan di Gedung LKIM Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

MATERI
1.      Pernikahan dalam Perspektif Fikih (KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA)   
Sesi ini akan menjelaskan tentang hukum pernikahan dan hak suami-istri dalam rumah tangga.
2.     Keluarga Sakinah Menurut Al-Quran dan Hadist (Dr.Phil. Sahiron  Syamsuddin, MA)
Sesi ini akan menjelaskan tentang dalil-dalil agama yang mengarahkan pada pemilihan calon suami/istri yang baik dan landasan perilaku untuk membangun keluarga yang Qurani.
3.     Pernikahan dalam Prespektif Psikologi (Ruspita Rani Pratiwi, M.Psi)
Sesi ini akan menjelaskan tentang persiapan psikologis untuk menghadapi kehidupan rumah tangga, termasuk tentang problematika dan solusi masalah rumah tangga.
4.     Keluarga dan Masyarakat (Nyai Hj. Sintho' Nabilah)
Sesi ini akan menjelaskan tentang relasi suami-istri dengan masyarakat dan budaya di sekelilingnya. Bagaimana suami istri mengelola peran dalam rumah tangga dan berbaga afiliasi organisasi kemasyarakatan atau pekerjaan di luar rumah.
5.     Kesehatan Reproduksi (Eny Sukowati, Amd Keb)
Sesi ini akan menginformasikan kepada peserta mengenai persiapan kesehatan pranikah informasi Keluarga Berencana (KB), informasi penyakit menular seksual (PMS), dan kesehatan anak.
6.     Administrasi Pernikahan (KUA Sewon)
Sesi ini akan memberikan penjelasan tentang syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk menikah agar bisa dikui secara sah oleh negara.
7.     Perekonomian Keluarga (Allisa Wahid)
Sesi ini peserta akan diajak untuk membuat manajemen keuangan keluarga, seperti neraca pendapatan-pengeluaran, dan manajemen investasi untuk masa depan keluarga.
8.     Analisis Masalah Rumah Tangga (Ahmad Rafiq, MA)
Sesi ini akan menjelaskan tentang sejumlah problematika dalam keluarga seperti  percerian, KDRT, poligami, long distance relationship, ekonomi, dan kemungkinan jalankeluar yang bisa ditempuh.

Pendaftaran Peserta
Peserta yang akan mengikuti kegiatan ini diharapkan memenuhi ketentuan berikut:         
1.      Minimal berusia 18 tahun
2.     Bersedia mengikuti seluruh sesi yang ditentukan panitia
3.     Mengisi formulir pendaftaran di sekretariat panitia atau di sini ini paling lambat 29 November 2012
4.     Membayar biaya pendaftaran; santri (Rp 80.000), mahasiswa (Rp 100.000), umum (150.000). Fasilitas yang didapatkan di antaranya modul, seminar kit, snack, sertifikat, dan VCD dokumentasi materi.
5.     Biaya pendaftaran dikirim via rekening BRI an. Ummi Rohmah 373801011947532 atau dapat membayar langsung kepada panitia di Komplek Gedung Putih Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak dengan nomor 085743361523 (Rohmah).
6.     Bagi yang melakukan transaksi via rekening, dimohon mengirimkan bukti trasaksi ke email gedungputihkrapyak@gmail.com. Setelah itu, panitia akan memberikan konfirmasi penerimaan peserta.

Kontak Kami:        
085226489061 (Rohmah) 
Komplek Gedung Putih Yayasan Ali Maksum Pondok Krapyak, Gang Mawar Jl. KH. Ali    Maksum, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Minggu, 25 Maret 2012

Simbah Ali Maksum dan Hujjahnya


oleh: Ummi Rohmah

KH. Ali Maksum Allahu yarham
Kitab Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah salah satu karya KH. Ali Maksum. Kitab ini sering di baca di pesantern-pesantren baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan.
Karya ini ditulis dalam bahasa arab, sebagaimana diketahui bahwa KH. Ali Maksum  adalah seorang yang mampu dalam bahasa arab dan bahkan beliau dijuluki “munjid berjalan” sehingga wajar dalam karyanya ini ditulis dengan menggunakan bahasa arab. Dalam pengantarnya, KH. Ali Maksum menyatakan bahwa perbedaan dalam amaliah keagamaan atau biasa disebut dengan khilafiyyah bukanlah seorang yang harus diperdebatkan dan diperselisihkan namun harus saling menghormati dan toleransi karena masing-masing berdasarkan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya sebagaimana hadis, asar sahabat dan kesepakatan ulama.[1]
Dalam penyusunan  kitab ini, KH. Ali Maksum sangat tawaddu’ sebagaiman pernyataannya:[2]
“saya menyusun kitab ini adalah sebagaimana pendapat ulama-ulama dunia dan orang-orang terkemuka dalam agama Islam. Sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah mengumpulkan dan mengutip pendapat-pendapat mereka dan sebagai pegangan dan tidak mungkin berasal dari pendapat saya pribadi”.

Untuk membedakan antara pendapat KH. Ali Maksum sebagai penulis kitab ini dengan pendapat H. Subki sebagai tambahan, biasanya pendapat KH. Ali Maksum biasanya di awali dengan “al-Syaikh”. Sementara pendapat H. Subki diawali dengan “ziadat min al-faqir”.
Penambahan yang dilakukan H. Subki dalam kitab ini, sebagaimana dapat ditemukan pada bab emapat tentang salat tarawih, ia menambahkan dengan mengutip riwayat hadis yang berkaitan dengan tarawih.[3]
Hadis tersebut adalah:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ
Artinya: Yahya ibn Bukair bercerita kepada kami dari Allais dari ‘Uqail dari Ibn Syihab, dari ‘Urwah bahwa ‘Aisyah r.a berkata bahwa Rasullah keluar rumah pada sepertiga yang akhir dari malam telah salat di masjid, dan solat pula para sahabat, ketika memasuki waktu subuh mereka bercerita bahwa mayoritas di antara mereka berkumpul, mereka bersolat bersama Nabi, ketika memasuki waktu subuh pada malam ketiga mereka bercerita jamaah di masjid bertambah banyak maka Rasulullah saw keluar salat dan mereka solat pila. Ketika pada malam ke empat Nabi tidak kuasa ke masjid dari rumahnya sehingga ia keluar untuk solat subuh, ketika sampai pada waktu fajar beliau menghadap kepada para sahabat dan menyaksikannya dan bersabda sesungguhnya saya tidak takut dengan apa yang kalian lakukan, akan tetapi saya takut solatitu menjadi wajib atas kamu dan kalian tidak mampu melaksanakannya. Setelah itu beliau wafat.[4]
      Kutipan hadis yang di tambahkan H. Subki dibagian lain adalah ketika menjelaskan tentang hadis yang berkaitan dengan mengikuti sunnah nabi dan Khulafa al-Rasyidin.[5] Hadis tersebut adalah
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

Artinya: dari Hudaifah bahwa Nabi saw. Bersabda ikutilah orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar.[6]

Dalam bab lain, penambahan H. Subki adalah dengan mengutib kitab, hal ini misalnya terdapat pada bab dua tentang kebolehan salat Iqabliyyah jum’at, ia mengutip kitab Fath al-Wahhab, dalam kitab tersebut terdapat keterangan  hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa di antara azan dan iqamah terdapat salat.[7]
Secara kantitatif persoalan-persoalan khilafiyyah yang dibahas dalam kitab ini terangkum dalam 9 bab, di antaranya adalah: Hibat Sawab al-Qiraah wa al-Sadaqah li al-Mayyit, Salat al-Tarawih, Subutu Syahray Ramadan wa Syawwal, Ziyarah al-Qubur, Naim al-Qabri wa ‘Adabih, Ziyarah al-Rasul wa Syidd al-Rihal,Bayan al-Tawassul bi al-Anbiya wa al-Aliya’a wa al-Salihin.[8]
Dalam karyanya ini, KH. Ali Maksum dalam tema pembahasan dalam suatu bab terkadang menggunakan kalimat pertanyaan (istifham),[9] hal ini dimungkinkan karena yang dibahas adalah persoalan khilafiyyah sehingga mengandung pengertian apakah sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak.
KH. Ali Maksum mengawali pembahasannya dengan mendeskripsikan suatu masalah secara umum dengan menyebutkan pendapat-pendapat yang berkaitan dengan persoalan berikut.
Selanjutnya dalam menyimpulkan pendapatnya ia mengambil pendapat ulama yang mayoritas atau yang lebih unggul (rajijh). Hal ini dapat dilihat dalam bab salat tarawih, Bahwa pelaksanaan salat tarawih terjadi perbedaan jumlah rakaatnya ada yang berpendapat 20 rakaat dan 8 rakaat, dan KH. Ali Maksum memilih pendapat bahwa pelaksanaan salat tarawih adalah 20 rakaat, karena pendapat ini yang lebih masyhur dan dilaksanakan pada zaman sahabat. Sebagaimana hadis berikut ini.
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
Dari Malik, dari Yazid bin Ruman, ia mengatakan orang-orang mengerjakan (salat tarawih) pada zaman Umar bin Khattab sebayak 23 rakaat.[10]

Secara kualitatif, Hadis-hadis al-Kutub al-tis’ah yang di kutip KH. Ali Maksum yang terdapat dalam karya ini diantaranya:
1.      Sahih Bukhari sebanyak 7 buah hadis
2.      Sahih Muslim sebanyak 5 buah hadis
3.      Sunan al-Tirmizi sebanyak 7 buah hadis
4.      Sunan al-Nasai sebanyak 2 buah hadis
5.      Sunan Abu Daud sebanyak 3 buah hadis
6.      Sunan Ibnu Majah sebanyak 1 buah hadis
7.      Musnad Ahmad bin Hanbal sebanyak 1 buah hadis
8.      Muwatta ibn Malik sebanyak 1 buah hadis
9.      Sunan al-Darimi sebanyak 1 buah hadis
KH.Ali Maksum dalam pengutipan hadis tidak menyebutkan seluruh sanadnya. Beliau hanya mencukupkan dengan menyebut nama rawi pertama dan rawi terakhir (mukharrij) hadis.
Dalam menjelaskan hadis-hadis yang terdapat dalam karyanya ini. KH. Ali Maksum terkadang menjelaskan kuatilas hadis yang dikutipnya. Hal ini missal terdapat dalam bab dua. Bahwa hadis yang menyatakan tentang salat qabliyyah jum’at sanadnya sahih menurut al-Iraqi.[11] Namun demikian, KH. Ali Maksum lebih sering tidak menjelaskan kualitas hadis yang dikutipnya.
1.  
    Sumber Rujukan Penulisan Kitab
Karya yang disusun KH. Ali Maksum ini adalah berisi hujjah-hujjah naqliyah dan pendapat para ulama terdapat amaliyah keagamaan yang bersifat khitafiyyah. Dalam penulisannya KH. Ali Maksum merujuk dari berbagai literature di antaranya: al-Ruh karya al-Qayyim al-Jauziyyah; Fath al-Qadir karya Ibn al-Himam; Fatawa Syar’iyyah karya Syaikh Hasanain Muhammad Muhluf; Syarh al-Minhaj karya Sulaiman al-Jamal; al-Majmu dan al-Azkar karya Imam nawawi; al-Mizan al-Kubra karya Imam Sya’rani; Majmu Salasi Rasaila karya Muhammad al-Arabi; Fath al-Wahhab karya Zakaria al-Ansari, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah karya Abdurrahman al-Jairi; Ahkam al-Fuqaha fi Muqarrat Nahdat al-Ulama, Ihya Ulum al-Din karya Abu Hamid al-Ghozali; Bidayat al-Mujtahid karya al-Qurtubi; Majmu’ Fatawa karya Taimiyah; Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib karya Ibrahim al-Bajuri; disamping itu KH. Ali Maksum juga mengutip hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis, di antara Sahih Bukhari karya Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari; Sahih Muslim karya Abu al-Husain  Muslim ibn al-Hajjaj; Sunan Abi Daud karya Abu Daud Sulaiman al-Azadi; Sunan al-Tirmizi karya al-Tirmizi; Sunan al-Nasai karya al-Nasai; Sunan Ibnu Majah karya Ibn Majah; Musnad Ahmad bin Hanbal karya Ahmad ibn Hanbal; Muwatta ibn Malik karya Imam Malik ibn Anas; Sunan al-Darimi karya Abu Muhammad al-Darimi; Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi; Mu’jam al-Wasit karya Tabrani; Mustadarak karya al-Hikam; KH. Ali Maksum  juga merujuk kepada kitab syarah hadis di antaranya Fath al-Bari Syarh al-Bukhari karya Ibn Hajar al-Asqalani. Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmizi karya Abi al- ‘Ula Muhammad Abdurrahman ibn Abdurrahman al-Mubarkafuri.


[1] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 5
[2] Ibid., hlm 6
[3] Ibid., hlm 26
[4] Imam al-Bukhari, sahih al-Buhari, “Salat al-Tarawih”., no hadis 1873, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997
[5] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm 29
[6] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal. No. hadis 22161, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997

[7] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 18.
[8] Ibid., hlm. 107
[9][9] KH. Ali Maksum mengawali pembahasannya dengan pertanyaan terdapat pada bab 2; hal lisalah al-jum’ah sunnah qabliyyah au la, hal tajuzu ziyarat al-qubur, dan hal ifi al-qabri na’im wa ‘azab, KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm 117, 53, dan 64
[10] Imam Malik, Muawatta Malik, “al-Nida’a li al-Salah”, no hadis: 233, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997
[11] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 19