Selasa, 13 November 2012

Short Course Pra Nikah: Di Atas Cinta Ada Mawaddah dan Amanah


OVERVIEW
Pernikahan adalah anjuran agama. Keterikatan antara seorang lelaki dan seorang perempuan merupakan kebutuhan setiap orang  yang bersifat naluriah. Selain itu, pernikahan bertujuan untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur. Lebih dari itu, pernikahan  bahkan menjadi kebutuhan bagi kesempurnaan hidup manusia.

Menuju jenjang pernikahan hingga menjalani kehidupan rumah tangga,  ada tahapan-tahapan yang harus dilalui muslimin muslimat untuk mewujudkan keluaraga mawaddah, sakinah, wa rahmah. Berdasarkan hal tersebut kami santri komplek Gedung Putih berinisiatif untuk mengadakan pelatihan Pra-Nikah, dengan tujuan memberikan gambaran proses yang akan ditempuh oleh muslimin dan muslimat dari sejak  taâaruf hingga ke jenjang pernikahan dengan berbagai pendekatan perspektif.

 TUJUAN KEGIATAN
Tujuan pelatihan pra-nikah yang berjudul SHORT COURSE PRA NIKAH: “DI..ATAS MAWADDAH ADA CINTA DAN AMANAH” adalah:
1.      Sebagai pembelajaran generasi muda seputar pernikahan sesuai syariah  Islam
2.     Mampu merealisasikan tahapan-tahapan pernikahan sesuai nilai-nilai Islam
3.     Mampu meresapi dan merefleksikan visi-misi pernikahan

PENYELENGGARAAN
Kegiatan ini akan diselenggarakan dalam delapan minggu dengan rentang waktu   2  Desember 2012 sampai 20 Jauari 2013. Pelatihan ini terdiri dari delapan sesi  yang hanya akan ada satu sesi setiap minggunya setiap hari Ahad pukul  09.00-11.00.  Acara ini akan diadakan di Gedung LKIM Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta.

MATERI
1.      Pernikahan dalam Perspektif Fikih (KH. Dr. Abdul Ghofur Maimoen, MA)   
Sesi ini akan menjelaskan tentang hukum pernikahan dan hak suami-istri dalam rumah tangga.
2.     Keluarga Sakinah Menurut Al-Quran dan Hadist (Dr.Phil. Sahiron  Syamsuddin, MA)
Sesi ini akan menjelaskan tentang dalil-dalil agama yang mengarahkan pada pemilihan calon suami/istri yang baik dan landasan perilaku untuk membangun keluarga yang Qurani.
3.     Pernikahan dalam Prespektif Psikologi (Ruspita Rani Pratiwi, M.Psi)
Sesi ini akan menjelaskan tentang persiapan psikologis untuk menghadapi kehidupan rumah tangga, termasuk tentang problematika dan solusi masalah rumah tangga.
4.     Keluarga dan Masyarakat (Nyai Hj. Sintho' Nabilah)
Sesi ini akan menjelaskan tentang relasi suami-istri dengan masyarakat dan budaya di sekelilingnya. Bagaimana suami istri mengelola peran dalam rumah tangga dan berbaga afiliasi organisasi kemasyarakatan atau pekerjaan di luar rumah.
5.     Kesehatan Reproduksi (Eny Sukowati, Amd Keb)
Sesi ini akan menginformasikan kepada peserta mengenai persiapan kesehatan pranikah informasi Keluarga Berencana (KB), informasi penyakit menular seksual (PMS), dan kesehatan anak.
6.     Administrasi Pernikahan (KUA Sewon)
Sesi ini akan memberikan penjelasan tentang syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi untuk menikah agar bisa dikui secara sah oleh negara.
7.     Perekonomian Keluarga (Allisa Wahid)
Sesi ini peserta akan diajak untuk membuat manajemen keuangan keluarga, seperti neraca pendapatan-pengeluaran, dan manajemen investasi untuk masa depan keluarga.
8.     Analisis Masalah Rumah Tangga (Ahmad Rafiq, MA)
Sesi ini akan menjelaskan tentang sejumlah problematika dalam keluarga seperti  percerian, KDRT, poligami, long distance relationship, ekonomi, dan kemungkinan jalankeluar yang bisa ditempuh.

Pendaftaran Peserta
Peserta yang akan mengikuti kegiatan ini diharapkan memenuhi ketentuan berikut:         
1.      Minimal berusia 18 tahun
2.     Bersedia mengikuti seluruh sesi yang ditentukan panitia
3.     Mengisi formulir pendaftaran di sekretariat panitia atau di sini ini paling lambat 29 November 2012
4.     Membayar biaya pendaftaran; santri (Rp 80.000), mahasiswa (Rp 100.000), umum (150.000). Fasilitas yang didapatkan di antaranya modul, seminar kit, snack, sertifikat, dan VCD dokumentasi materi.
5.     Biaya pendaftaran dikirim via rekening BRI an. Ummi Rohmah 373801011947532 atau dapat membayar langsung kepada panitia di Komplek Gedung Putih Yayasan Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak dengan nomor 085743361523 (Rohmah).
6.     Bagi yang melakukan transaksi via rekening, dimohon mengirimkan bukti trasaksi ke email gedungputihkrapyak@gmail.com. Setelah itu, panitia akan memberikan konfirmasi penerimaan peserta.

Kontak Kami:        
085226489061 (Rohmah) 
Komplek Gedung Putih Yayasan Ali Maksum Pondok Krapyak, Gang Mawar Jl. KH. Ali    Maksum, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Sewon, Bantul.

Minggu, 25 Maret 2012

Simbah Ali Maksum dan Hujjahnya


oleh: Ummi Rohmah

KH. Ali Maksum Allahu yarham
Kitab Hujjah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah salah satu karya KH. Ali Maksum. Kitab ini sering di baca di pesantern-pesantren baik di dalam maupun di luar bulan Ramadhan.
Karya ini ditulis dalam bahasa arab, sebagaimana diketahui bahwa KH. Ali Maksum  adalah seorang yang mampu dalam bahasa arab dan bahkan beliau dijuluki “munjid berjalan” sehingga wajar dalam karyanya ini ditulis dengan menggunakan bahasa arab. Dalam pengantarnya, KH. Ali Maksum menyatakan bahwa perbedaan dalam amaliah keagamaan atau biasa disebut dengan khilafiyyah bukanlah seorang yang harus diperdebatkan dan diperselisihkan namun harus saling menghormati dan toleransi karena masing-masing berdasarkan sumber yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya sebagaimana hadis, asar sahabat dan kesepakatan ulama.[1]
Dalam penyusunan  kitab ini, KH. Ali Maksum sangat tawaddu’ sebagaiman pernyataannya:[2]
“saya menyusun kitab ini adalah sebagaimana pendapat ulama-ulama dunia dan orang-orang terkemuka dalam agama Islam. Sehingga yang dapat saya lakukan hanyalah mengumpulkan dan mengutip pendapat-pendapat mereka dan sebagai pegangan dan tidak mungkin berasal dari pendapat saya pribadi”.

Untuk membedakan antara pendapat KH. Ali Maksum sebagai penulis kitab ini dengan pendapat H. Subki sebagai tambahan, biasanya pendapat KH. Ali Maksum biasanya di awali dengan “al-Syaikh”. Sementara pendapat H. Subki diawali dengan “ziadat min al-faqir”.
Penambahan yang dilakukan H. Subki dalam kitab ini, sebagaimana dapat ditemukan pada bab emapat tentang salat tarawih, ia menambahkan dengan mengutip riwayat hadis yang berkaitan dengan tarawih.[3]
Hadis tersebut adalah:
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ أَنَّ عَائِشَةَ رَضِي اللَّهم عَنْهَا أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ لَيْلَةً مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ فَصَلَّى فِي الْمَسْجِدِ وَصَلَّى رِجَالٌ بِصَلَاتِهِ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَاجْتَمَعَ أَكْثَرُ مِنْهُمْ فَصَلَّى فَصَلَّوْا مَعَهُ فَأَصْبَحَ النَّاسُ فَتَحَدَّثُوا فَكَثُرَ أَهْلُ الْمَسْجِدِ مِنَ اللَّيْلَةِ الثَّالِثَةِ فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّى فَصَلَّوْا بِصَلَاتِهِ فَلَمَّا كَانَتِ اللَّيْلَةُ الرَّابِعَةُ عَجَزَ الْمَسْجِدُ عَنْ أَهْلِهِ حَتَّى خَرَجَ لِصَلَاةِ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَضَى الْفَجْرَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَتَشَهَّدَ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّهُ لَمْ يَخْفَ عَلَيَّ مَكَانُكُمْ وَلَكِنِّي خَشِيتُ أَنْ تُفْتَرَضَ عَلَيْكُمْ فَتَعْجِزُوا عَنْهَا فَتُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ
Artinya: Yahya ibn Bukair bercerita kepada kami dari Allais dari ‘Uqail dari Ibn Syihab, dari ‘Urwah bahwa ‘Aisyah r.a berkata bahwa Rasullah keluar rumah pada sepertiga yang akhir dari malam telah salat di masjid, dan solat pula para sahabat, ketika memasuki waktu subuh mereka bercerita bahwa mayoritas di antara mereka berkumpul, mereka bersolat bersama Nabi, ketika memasuki waktu subuh pada malam ketiga mereka bercerita jamaah di masjid bertambah banyak maka Rasulullah saw keluar salat dan mereka solat pila. Ketika pada malam ke empat Nabi tidak kuasa ke masjid dari rumahnya sehingga ia keluar untuk solat subuh, ketika sampai pada waktu fajar beliau menghadap kepada para sahabat dan menyaksikannya dan bersabda sesungguhnya saya tidak takut dengan apa yang kalian lakukan, akan tetapi saya takut solatitu menjadi wajib atas kamu dan kalian tidak mampu melaksanakannya. Setelah itu beliau wafat.[4]
      Kutipan hadis yang di tambahkan H. Subki dibagian lain adalah ketika menjelaskan tentang hadis yang berkaitan dengan mengikuti sunnah nabi dan Khulafa al-Rasyidin.[5] Hadis tersebut adalah
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ زَائِدَةَ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اقْتَدُوا بِاللَّذَيْنِ مِنْ بَعْدِي أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ

Artinya: dari Hudaifah bahwa Nabi saw. Bersabda ikutilah orang setelahku yaitu Abu Bakar dan Umar.[6]

Dalam bab lain, penambahan H. Subki adalah dengan mengutib kitab, hal ini misalnya terdapat pada bab dua tentang kebolehan salat Iqabliyyah jum’at, ia mengutip kitab Fath al-Wahhab, dalam kitab tersebut terdapat keterangan  hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim bahwa di antara azan dan iqamah terdapat salat.[7]
Secara kantitatif persoalan-persoalan khilafiyyah yang dibahas dalam kitab ini terangkum dalam 9 bab, di antaranya adalah: Hibat Sawab al-Qiraah wa al-Sadaqah li al-Mayyit, Salat al-Tarawih, Subutu Syahray Ramadan wa Syawwal, Ziyarah al-Qubur, Naim al-Qabri wa ‘Adabih, Ziyarah al-Rasul wa Syidd al-Rihal,Bayan al-Tawassul bi al-Anbiya wa al-Aliya’a wa al-Salihin.[8]
Dalam karyanya ini, KH. Ali Maksum dalam tema pembahasan dalam suatu bab terkadang menggunakan kalimat pertanyaan (istifham),[9] hal ini dimungkinkan karena yang dibahas adalah persoalan khilafiyyah sehingga mengandung pengertian apakah sesuatu itu boleh dilakukan atau tidak.
KH. Ali Maksum mengawali pembahasannya dengan mendeskripsikan suatu masalah secara umum dengan menyebutkan pendapat-pendapat yang berkaitan dengan persoalan berikut.
Selanjutnya dalam menyimpulkan pendapatnya ia mengambil pendapat ulama yang mayoritas atau yang lebih unggul (rajijh). Hal ini dapat dilihat dalam bab salat tarawih, Bahwa pelaksanaan salat tarawih terjadi perbedaan jumlah rakaatnya ada yang berpendapat 20 rakaat dan 8 rakaat, dan KH. Ali Maksum memilih pendapat bahwa pelaksanaan salat tarawih adalah 20 rakaat, karena pendapat ini yang lebih masyhur dan dilaksanakan pada zaman sahabat. Sebagaimana hadis berikut ini.
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَزِيدَ بْنِ رُومَانَ أَنَّهُ قَالَ كَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ فِي زَمَانِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي رَمَضَانَ بِثَلَاثٍ وَعِشْرِينَ رَكْعَةً
Dari Malik, dari Yazid bin Ruman, ia mengatakan orang-orang mengerjakan (salat tarawih) pada zaman Umar bin Khattab sebayak 23 rakaat.[10]

Secara kualitatif, Hadis-hadis al-Kutub al-tis’ah yang di kutip KH. Ali Maksum yang terdapat dalam karya ini diantaranya:
1.      Sahih Bukhari sebanyak 7 buah hadis
2.      Sahih Muslim sebanyak 5 buah hadis
3.      Sunan al-Tirmizi sebanyak 7 buah hadis
4.      Sunan al-Nasai sebanyak 2 buah hadis
5.      Sunan Abu Daud sebanyak 3 buah hadis
6.      Sunan Ibnu Majah sebanyak 1 buah hadis
7.      Musnad Ahmad bin Hanbal sebanyak 1 buah hadis
8.      Muwatta ibn Malik sebanyak 1 buah hadis
9.      Sunan al-Darimi sebanyak 1 buah hadis
KH.Ali Maksum dalam pengutipan hadis tidak menyebutkan seluruh sanadnya. Beliau hanya mencukupkan dengan menyebut nama rawi pertama dan rawi terakhir (mukharrij) hadis.
Dalam menjelaskan hadis-hadis yang terdapat dalam karyanya ini. KH. Ali Maksum terkadang menjelaskan kuatilas hadis yang dikutipnya. Hal ini missal terdapat dalam bab dua. Bahwa hadis yang menyatakan tentang salat qabliyyah jum’at sanadnya sahih menurut al-Iraqi.[11] Namun demikian, KH. Ali Maksum lebih sering tidak menjelaskan kualitas hadis yang dikutipnya.
1.  
    Sumber Rujukan Penulisan Kitab
Karya yang disusun KH. Ali Maksum ini adalah berisi hujjah-hujjah naqliyah dan pendapat para ulama terdapat amaliyah keagamaan yang bersifat khitafiyyah. Dalam penulisannya KH. Ali Maksum merujuk dari berbagai literature di antaranya: al-Ruh karya al-Qayyim al-Jauziyyah; Fath al-Qadir karya Ibn al-Himam; Fatawa Syar’iyyah karya Syaikh Hasanain Muhammad Muhluf; Syarh al-Minhaj karya Sulaiman al-Jamal; al-Majmu dan al-Azkar karya Imam nawawi; al-Mizan al-Kubra karya Imam Sya’rani; Majmu Salasi Rasaila karya Muhammad al-Arabi; Fath al-Wahhab karya Zakaria al-Ansari, al-Fiqh ‘ala al-Mazahib al-‘Arba’ah karya Abdurrahman al-Jairi; Ahkam al-Fuqaha fi Muqarrat Nahdat al-Ulama, Ihya Ulum al-Din karya Abu Hamid al-Ghozali; Bidayat al-Mujtahid karya al-Qurtubi; Majmu’ Fatawa karya Taimiyah; Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib karya Ibrahim al-Bajuri; disamping itu KH. Ali Maksum juga mengutip hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis, di antara Sahih Bukhari karya Muhammad ibn Isma’il al-Bukhari; Sahih Muslim karya Abu al-Husain  Muslim ibn al-Hajjaj; Sunan Abi Daud karya Abu Daud Sulaiman al-Azadi; Sunan al-Tirmizi karya al-Tirmizi; Sunan al-Nasai karya al-Nasai; Sunan Ibnu Majah karya Ibn Majah; Musnad Ahmad bin Hanbal karya Ahmad ibn Hanbal; Muwatta ibn Malik karya Imam Malik ibn Anas; Sunan al-Darimi karya Abu Muhammad al-Darimi; Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi; Mu’jam al-Wasit karya Tabrani; Mustadarak karya al-Hikam; KH. Ali Maksum  juga merujuk kepada kitab syarah hadis di antaranya Fath al-Bari Syarh al-Bukhari karya Ibn Hajar al-Asqalani. Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmizi karya Abi al- ‘Ula Muhammad Abdurrahman ibn Abdurrahman al-Mubarkafuri.


[1] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 5
[2] Ibid., hlm 6
[3] Ibid., hlm 26
[4] Imam al-Bukhari, sahih al-Buhari, “Salat al-Tarawih”., no hadis 1873, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997
[5] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm 29
[6] Ahmad ibn Hanbal, Musnad Ahmad ibn Hanbal. No. hadis 22161, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997

[7] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 18.
[8] Ibid., hlm. 107
[9][9] KH. Ali Maksum mengawali pembahasannya dengan pertanyaan terdapat pada bab 2; hal lisalah al-jum’ah sunnah qabliyyah au la, hal tajuzu ziyarat al-qubur, dan hal ifi al-qabri na’im wa ‘azab, KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm 117, 53, dan 64
[10] Imam Malik, Muawatta Malik, “al-Nida’a li al-Salah”, no hadis: 233, dalam CD Mausu’ah al-Hadis al-Syarif. Sakhr Software Co. 1995-1997
[11] KH. Ali Maksum, Hujjah …, hlm. 19

Rabu, 21 Maret 2012

Wajah Komplek GP Krapyak

LPJ Pengurus GP 2008/2010

Bu Nyai Lutfiah Baidlowi dan Kiai Jirjis Ali
mengapit santri  yang akan diwisuda didampingi suami dan jabang bayi :)

suasana baca diba'iyah yang khidmah dan tetap gayeng :))

usai baca diba', berdoa dengan khusyu'

Mbah Ali Maksum dan naskah Asmaul Husna susunan beliau
Salah satu aksi di Stand GP memeriahkan Haul KH. Ali Maksum
Acting santri GP di Komplek Meeting Muharroman PP. Almunawwir

Minggu, 18 Maret 2012

Berdaya Sejak Dalam Pikiran

http://showcase.indonesiakreatif.net/index.php/media/detil/556/keumalahayati 
Oleh: Siti Muyassarotul Hafidzoh*

Kawan-kawan santriwati Gedung Putih yang saya cintai. Terima kasih sudah diberikan kesempatan untuk berbagi wacana di blog yang sangat penuh inspiratif ini. Saya jadi kangen dengan suasana GP yang kekeluargaan, yang memberikan banyak motivasi kepada saya, apalagi dalam pengajian Pak Sahiron, wah pokoknya semangat banget pengen menjadi perempuan yang berharga. Dari kamar lantai 2 pojok tangga-lah saya memulai mewujudkannya, kegemaran untuk menuangkan gagasan muncul. Kegemaran menulis membuat saya sekarang mampu berdiri menjadi seorang ibu rumah tangga, seorang mahasiswa dan seorang jurnalis independen. Semoga tulisan berikut mampu memberi sedikit cahaya untuk kawan GP supaya cahaya GP semakin terang dan terang... hehehe...

Permasalahan tentang perempuan tidak pernah habis dikupas oleh siapa pun, perempuan memiliki aura tersendiri sehingga apapun dari perempuan menjadi menarik untuk ditelusuri lebih dalam. Pemberdayaan perempuan sampai saat ini masih digalakkan oleh berbagai macam kalangan. Dampak dari kesetaraan gender dan feminisme ini sangat berpengaruh besar terhadap pemberdayaan perempuan. Semua usaha dilakukan demi mengangkat harkat dan martabat perempuan yang masih menjadi perdebatan yang cukup pelik.

Apapun usaha untuk memberdayakan perempuan dirasa sangat baik, namun yang perlu diingat adalah apakah para perempuan khususnya perempuan awam yang tidak faham dengan gerakan gender dan feminisme menyadari akan pentingnya pemberdayaan yang selama ini dilakukan. Perempuan awam yang notabenya hanya sebagai rakyat kecil biasa dan memiliki pendidikan yang biasa pula terkadang masih tidak memahami makna dari pemberdayaan. Mereka masih berpikir bahwa mereka hanya sosok perempuan yang memang sudah seharusnya hidup hanya untuk menjalankan tugas domestiknya. Tidak usahlah berpendidikan yang tinggi karena pada akhirnya jadi istri orang juga. 

Pemikiran yang seperti itu masih banyak dirasakan oleh kalangan perempuan awam, mereka tidak terlalu sibuk dengan memikirkan kesetaraan, pemberdayaan bahkan menuntut hak sebagai perempuan, karena yang hanya mereka tahu adalah mereka perempuan yang sudah memiliki takdir tidak sama dengan laki-laki atau di bawah laki-laki. Jika pemikiran ini masih merasuk pada perempuan awam maka gerakan gender dan feminisme hanya dirasakan oleh perempuan yang notabennya menengah ke atas dan yang mampu memiliki pendidikan layak. Bukankah ini menjadi permaslahan tersendiri bahwa perempuan yang tercerahkan hanya perempuan yang memiliki finansial lebih. Maka akan terjadilah dikriminasi antar perempuan.

Perempuan yang memiliki banyak kelebihan masih menggalakkan kesetaraan namun melupakan perempuan awam yang seharusnya mereka lebih mendapatkan pencerahan. Kesadaran untuk berdaya tidak dimiliki oleh semua perempuan, oleh karena itu menjadi tugas siapakah untuk menyadarkan pemberdayaan pada diri perempuan. Tentulah tugas semuanya.
Jangan hanya terlena untuk menuntut kesetaraan gender dan feminisme kemudian menyalahkan laki-laki yang selalu mengunggulkan nilai patriarkhinya, namun melupakan untuk menyadarkan para perempuan untuk lebih berdaya sehingga ketika kesadaran itu sudah dimiliki maka dengan sendirinya perempuan akan menggerakkan kemampuannya untuk meraih pendidikan yang layak dan pekerjaan yang memberdayakannya. Bukankah akan lebih mudah tugas para tokoh gender dan feminisme.

Berdaya dari pikiran
“Kepekaan perempuan lebih peka dari seribu matahari”, begitulah ujaran dari penyair perempuan dari Aceh ibu Rosni Idham. Beliau adalah perempuan yang memiliki jiwa seni yang indah yang selalu mengalir dalam darahnya, dan berjuang untuk perdamaian dunia dan pemberdayaan perempuan. Menurut beliau perempuan adalah sosok yang memiliki kepekaan yang tajam melebihi laki-laki, bahkan beliau mengibaratkannya dengan lebih tajam dari seribu matahari. Ini yang harus kita perhatikan, ternyata dalam diri perempuan memiliki sensitifitas perasaan yang begitu peka. Kepekaan ini digunakan untuk menyadarkan diri perempuan untuk berdaya.

Menggerakkan hati perempuan akan lebih mudah jika melalui hati pula. Perempuan awam yang belum mendapatkan pencerahan untuk berdaya seharusnya kita dekati dengan hati yang tulus. Menyadarkan secara perlahan bahwa perempuan memiliki kemampuan yang luar biasa yang tidak boleh hanya didiamkan begitu saja namun harus diapresiasikan untuk kehidupan lebih baik.

Perempuan mampu untuk bertarung dengan laki-laki dalam bidang apapun, baik pendidikan maupun pekerjaan. Menanamkan kesadaran seperti itu dalam diri perempuan adalah kunci untuk pencerahan. Ketika sejak dalam pikiran para perempuan sudah sadar akan pentingnya kesetaraan dan berdaya, maka dalam kehidupan akan mungkin untuk melakukan semua itu. Bagaimana tidak karena sukses itu bermula dari hati dan pikiran.

Perempuan dan laki-laki itu setara, bahkan menurut Dr. Eti Nurhayati dalam bukunya Psikologi Perempuan (2012) menyatakan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki sifat yang sama, maksudnya dalam jiwa perempuan ada sifat maskulinnya, dan dalam jiwa laki-laki ada sifat feminimnya. Apabila seseorang mampu mengkolaborasikan dan menggunakan kedua sifat tersebut maka ia akan menjadi sosok yang profesional dan bijak dalam menanggapi kehidupan. Pernyataan Dr. Eti ini hampir sama dengan teori psikologi Carl Jung yang menyatakan bahwa perempuan atau laki-laki yang mengembangkan kedua sifat tersebut lebih sehat secara psikologi. 

Hal ini sangat penting untuk disadari, bahwa dalam diri perempuan pun terdapat sifat maskulin. Menyadari hal itu maka perempuan akan tidak segan-segan melakukan pemberdayaan. Kesadaran untuk berdaya yang dimiliki perempuan akan berdampak positif bagi anak-anaknya. Perempuan yang sadar akan pencerahan, maka ia pun akan mencerahkan anak-anaknya. Dan ini bukan hanya terjadi pada perempuan yang berfinansial lebih, namun perempuan awam pun akan mampu melakukan itu.
Oleh karena itu, untuk para tokoh penggerak gender dan feminisme, jangan lupa untuk membuat agenda besar dalam menyadarkan para perempuan awam untuk memiliki kesetaraan dan pemberdayaan yang layak, bukan hanya terjebak dalam agenda menyalahkan kaum laki-laki dengan budaya patriarkhinya saja. Karena penyadaran dalam diri perempuan jauh lebih penting daripada sekedar menyalahkan kaum laki-laki.

Perempuan, berdayalah sejak dalam pikiran, jemputlah kesuksesan dengan tangan muliamu dan jadikan tangan itu berdaya dan memberdayakan. Karena perempuan adalah ibu dari kehidupan.

*Ibu Rumah Tangga, Alumni Pesantren Gedung Putih. (tulisan berikut pernah dimuat di Koran Suara Merdeka, edisi 25 Januari 2012) 

Rabu, 14 Maret 2012

“Pesantren” Toad Hall

Ini catatan Ning Navhat Nuraniyah alumni Gedung Putih yang sekarang belajar di Australian National University. Ternyata pesantren memang selalu di hati :)
 
Sejak pertama kali menghirup nafas di dunia, sejak saya belum punya kesadaran, saya sudah tinggal di lingkungan pesantren. Kalau anak balita jaman sekarang sekolah di playgroup atau childcare, saya cukup disekolahkan di TPA dekat rumah yang kebetulan berada di lingkungan pesantren. Masa-masa TK, SD, sampe MTs pun saya lalui di sekolah yang berada di lingkungan pesantren di kota saya yang mungil tetapi melahirkan tokoh-tokoh besar sepanjang sejarah Indonesia dan dunia seperti Hasyim Asy’ari, Cak Nur, Cak Nun, dan tentunya Gus Dur (narsis dikit haha).

Ketika beranjak remaja, seperti ABG lain, saya ingin keluar dari tembok pesantren di kota kecil saya dan mengetahui dunia “di luar sana”. Ternyata nasib mengantarkan saya ke kota budaya yang metropolis nan tradisionalis, tetapi lagi-lagi, saya tetap tinggal di dalam tembok pesantren. Tetapi pesantren ini bisa dikatakan lebih modern. Dalam kaca mata saya waktu itu, modern berarti santri perempuan boleh memakai celana (dengan catatan longar), tidak seperti di tempat asal saya yang semua santri perempuan harus pakai rok. Saya masih ingat kali pertama memakai celana, rasanya seperti tidak memakai busana lengkap; semriwing. Meskipun lama kelamaan yang terjadi malah sebaliknya, hehehe. Sisi lain dari “modern” yang saya rasakan waktu itu adalah kesempatan yang lebih besar bagi santri perempuan untuk aktif dalam organisasi, diskusi, dan interaksi dengan lawan jenis tanpa batasan yang membuat santri perempuan merasa inferior. Seperti ketika OSIS mengadakan lomba debat antara tim santri putra dan santri putri tentang kesetaraan gender; tanpa satir, tanpa perbedaan kesempatan untuk berbicara.

Terlepas dari batasan-batasan yang menjadi ciri khas di pesantren, di pesantren pula saya menemukan kebebasan dan keragaman. Kebebasan untuk mengekspresikan diri di antara teman-teman sebaya di asrama yang tidak mungkin bisa dilakukan di rumah karena takut  dengan orang tua; kebebasan berpikir dalam “takror” atau diskusi; dan kebebasan untuk mengatur dan mengontrol diri sendiri karena jauh dari orang tua. Toleransi terhadap keberagaman juga menjadi nilai penting yang saya pelajari melalui pengalaman di pesantren. Berbagi kamar dengan teman-teman dari berbagai pulau dan suku bangsa dengan bahasa yang berbeda mengajarkan berbagai pengalaman unik dan seru. Dan di pesantren itulah saya tinggal sampai masa-masa kuliah, dan bahkan setelah menikah status saya masih santri.

Sekarang pun rasanya saya masih santri, hanya saja “pesantren” saya sekarang berada di negara yang sering disebut sekuler. Di “pesantren” Toad Hall, santrinya disebut “Toadies”. Toadies tidak hanya datang dari berbagai pulau tetapi dari berbagai benua di dunia. Tinggal di Toad Hall, dalam sehari saya bisa merasakan seperti berada di Beijing, sorenya di Vietnam, malamnya di Italia dan tengah malam berasa di Dubai. Agama dan kepercayaan santri Toadies pun beragam, mulai dari yang tidak punya kepercayaan, setengah percaya setengah tidak, percaya dengan ketidakpercayaannya, sampai yang benar-benar percaya dengan jalan dan caranya masing-masing.  Toad Hall juga punya jamaah terawih di bulan Ramadhan di mana jamaahnya datang dari berbagai penjuru dunia seperti yang di video shalat jamaah Masjidil Haram. Acara buka bersama dihadiri dan bahkan diadakan oleh teman-teman dari lintas agama dan budaya. Setiap malam santrinya tekun membaca teks-teks keilmuan tidak hanya dari kitab kuning tetapi juga kitab putih, coklat, dan kitab layar sentuh. Meskipun terlihat lebih modern dan beragam, Toad Hall toh sama dengan pesantren lain: ngantri kamar mandi dan WC masih menjadi kebiasaan :)

Rabu, 07 Maret 2012

Gedung Putih Go Online

Dinding-dinding Gedung Putih menjadi saksi banyak kisah para penghuninya. Galau nderes, skripsi, jodoh, dsb, dll, dst. Kisah di Gedung Putih barangkali lucu dan menggemaskan kalau diputar ulang. Terlebih, bagi alumni-alumni GP yang juga pernah menjejaki tangga, bersujud di musholla, dan kongko-kongko di depan tv. Semuanya berkesan :D

Blog ini hadir untuk memberikan ruang bagi teman-teman maupun alumni untuk berbagi cerita. Blog ini juga diharapkan akan menjadi media untuk berbagi ikhtisar pengajian dengan para ustadz. Akan sangat menyenangkan kalau ada komunikasi antargenerasi terjadi di blog ini. Kita akan mengetahui sejauh apa GP telah bergerak sebagai lembaga dan sampai mana para penghuni GP telah berkarya.

Gedung Putih merupakan komplek pesantren yang unik, menurut saya. beberapa waktu lalu, saya beli bakso di warung Pak Sarwan, kebetulan mas-masnya yang melayani, sebab Pak Sawran memang sudah lama tak kelihatan.
"Komplek mana, mbak?" tanya mas itu.
"Gedung Putih."
"Oh, Bu Lut ya. Kuliah, mbak?"
"Iya. Di GP wajib kuliah."
Masnya memandang saya sambil berkerut, "lha nek gak nduwe bondo moso kudu kuliah, mbak?"

Kalau tidak salah dalam AD/ART, GP didefinisikan sebagai asrama mahasiswa. Pada kenyatannya, GP memang dibangun untuk tujuan memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk bisa belajar dengan suasana pesantren. Saya pun tidak mau berlama-lama berdebat dengan Mas di warung bakso itu. Meskipun ada yang mengganjal.

Sering ada pameo begini, anak GP itu bukan hanya istri orang sukses, tapi akan menjadi orang sukses itu sendiri. Belakangan, jumlah mahasiswa pascasarjana di GP meningkat. Sebagian juga mulai membangun karier di sana-sini.

Saya mengundang Mbak-Mbak semua untuk meramaikan blog ini. Siapa tau dengan ngepost di blog, ada yang dapat jodoh, jaringan, atau minimal komen. hehe.. teman-teman yang mau kirim tulisan bisa menemui saya di kamar satu lantai satu atau kirim ke gedungputihkrapyak@gmail.com. Dengan pertimbangan security, sementara posting blog diwakili admin. 

Mari ngeBlog! :)

Nabilah Munsyarihah